Tuesday, November 30, 2010

SURAT CINTA TERINDAH



Kepada yg tercinta, bundaku yg kusayang


Segala puji bagi Allah… yg telah memuliakan kedudukan kedua orang tuaku, dan telah menjadikan mereka berdua sebagai pintu tengah menuju surga.

Shalawat serta salam hamba -yg lemah ini- panjatkan keharibaan Nabi yg mulia, keluarga serta para sahabatnya hingga hari kiamat. Amin…

Ibu…
Aku telah pun menerima suratmu yg engkau tulis dg tetesan air mata dan duka… aku telah membaca semuanya… tidak ada satu huruf pun yg aku sisakan.

Tapi tahukah engkau, wahai Ibu… bahwa aku membacanya semenjak shalat Isya’… Semenjak sholat isya’… aku duduk di pintu kamar, aku buka surat yg engkau tuliskan untukku… dan aku baru selesaikan membacanya setelah ayam berkokok… setelah fajar terbit dan adzan pertama telah dikumandangkan…

Sebenarnya, surat yg engkau tulis tersebut, jika ditaruhkan di atas batu, tentu ia akan pecah… Jika engkau letakkan di atas daun yg hijau, tentu dia akan kering…

Sebenarnya, surat yg engkau tulis tersebut tidak akan tertelan oleh ayam… Sebenarnya, wahai ibu, suratmu itu bagiku bagaikan petir kemurkaan, yg jika dipecutkan ke pohon yg besar, dia akan rebah dan terbakar…
Suratmu wahai ibu, bagaikan awan Kaum Tsamud, yg datang berarak dan telah siap dimuntahkan kepadaku…

Ibu…
Aku telah baca suratmu, sedangkan air mataku tidak pernah berhenti!! Bagaimana tidak… Jika surat itu ditulis oleh seorang yg bukan ibu dan bukan ditujukan pula kepadaku, layaklah orang yg paling bebal, untuk menangis sejadi-jadinya… Bagaimana kiranya, jika yg menulis itu adalah ibuku sendiri… dan surat itu ditujukan untukku sendiri…

Sungguh aku sering membaca kisah sedih, tidak terasa bantal yg dijadikan tempat bersandar telah basah karena air mata… Bagaimana pula dengan surat yg ibu tulis itu!? bukan cerita yg ibu karang, atau sebuah drama yg ibu perankan, akan tetapi dia adalah kenyataan hidup yang ibu rasakan.

Ibuku yang kusayangi…
Sungguh berat cobaanmu… sungguh malang penderitaanmu… semua yg engkau telah sebutkan benar adanya…

Aku masih ingat ketika engkau ditinggalkan ayah pada masa engkau hamil tua mengandung adikku. Ayah pergi entah kemana tanpa meninggalkan uang belanja, jadilah engkau mencari apa yg dapat dimasak di sekitar rumah dari dedaunan dan tumbuhan.

Dengan jalan berat engkau melangkah ke kedai untuk membeli ala kadarnya, sambil engkau membisikkan kepada penjual bahwa apa yg engkau ambil tersebut adalah hutang… hutang… yg engkau sendiri tidak tahu, kapan engkau akan dapat melunasinya…

Ibu…
Aku masih ingat ketika kami anak-anakmu menangis untuk dibuatkan makanan, engkau tiba-tiba menggapai atap dapur untuk mengambil kerak nasi yg telah lama engkau jemur dan keringkan…
Tidak jarang pula engkau simpan untukku sepulang sekolah tumbung kelapa, hanya untuk melihat aku mengambilnya dengan segera.
Aku masih ingat… engkau sengaja ambilkan air didih dari nasi yg sedang dimasak, ketika engkau temukan aku dalam keadaan sakit demam.

Ibu…
maafkanlah anakmu ini… aku tahu bahwa semenjak engkau gadis, sebagaimana yang diceritakan oleh nenek sampai engkau telah tua seperti sekarang ini, engkau belum pernah mengecap kebahagiaan.

Duniamu hanya rumah serta halamannya, kehidupanmu hanya dengan anak-anakmu… Belum pernah aku melihat engkau tertawa bahagia, kecuali ketika kami anak-anakmu datang ziarah kepadamu. Selain dari itu, tidak ada kebahagiaan… Semua hidupmu adalah perjuangan. Semua hari-harimu adalah pengorbanan

Ibu…
Maafkan anakmu ini! Semenjak engkau pilihkan untukku seorang istri, wanita yg telah engkau puji sifat dan akhlaknya… yang engkau telah sanjung pula suku dan negerinya! Semenjak itu pula aku seakan-akan lupa denganmu…

Wahai ibu…
Keberadaan dia sebagai istriku telah membuatku lupa posisi engkau sebagai ibuku… senyuman dan sapaannya telah melupakanku dengan himbauanmu.
Ibu… aku tidak menyalahkan wanita pilihanmu tersebut, karena kewajibannya untuk menunaikan tanggung-jawabnya sebagai istri… Aku berharap pada permasalahan ini, engkau tidak membawa-bawa namanya, dan mengaitkan kedurhakaanku kepadamu karenanya… Karena selama ini, di mataku dia adalah istri yang baik, istri yg telah berupaya berbuat banyak untuk suami dan anak-anaknya… Istri yg selalu menyuruh untuk berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua.

Ibu…
Ketika seorang laki-laki menikah dengan seorang wanita, maka seolah-olah dia telah mendapatkan permainan baru, seperti anak kecil mendapatkan boneka atau orang-orangan. Maafkan aku ibu…
Aku tidaklah membela diriku, karena dari awal dan akhir pembicaraan ini kesalahan ada padaku, anakmu ini… Akan tetapi aku ingin menerangkan keadaan yang aku alami, perubahan suasana setelah engkau dan aku berpisah, tidak satu atap lagi…

Ibu…
Perkawinanku membuatku masuk ke alam dunia baru… dunia yg selama ini tidak pernah aku kenal… dunia yang hanya ada aku, istri dan anak-anakku… Bagaimana tidak, istri yg baik, anak-anak yg lucu-lucu! Maafkan aku Ibu… Maafkan aku anakmu… aku merasa dunia hanya milik kami, aku tidak peduli dengan keadaan orang yg penting bagiku… yang penting bagiku adalah keadaan mereka: anak-anak dan istriku…

Ibu…
Maafkan aku, anakmu… Ampunkan aku, anakmu… Aku telah lalai… aku telah alpa… aku telah lupa… aku telah menyia-nyiakanmu…
Aku pernah mendengar kajian, bahwa orang tua difitrahkan untuk cinta kepada anaknya, akan tetapi anak difitrahkan untuk menyia-nyiakan orang tuanya… Oleh sebab itu, dilarang mencintai anak secara berlebihan, sebagaimana anak dilarang berbuat durhaka kepada orang tuanya… Itulah yg terjadi pada diriku, wahai Ibu!!
Aku pasti akan gila ketika melihat anakku sakit… Aku seperti orang kebingungan ketika melihat anakku diare… Tapi itu sulit, aku rasakan jika hal itu terjadi padamu wahai ibu… Itu sulit aku rasakan, jika seandainya hal itu terjadi pada ibu, dan pada ayah…

Ibu…
Sulit aku merasakan perasaanmu…
Kalaulah bukan karena bimbingan agama yg telah engkau talqinkan kepadaku, tentu aku telah seperti kebanyakan anak-anak yg durhaka kepada orang tuanya!!
Kalaulah bukan karena baktimu pula kepada orang tuamu dan orang tua ayahmu, niscaya aku tidak akan pernah mengenal arti bakti kepada orang tua.
Setelah suratmu datang, baru aku mengerti… Karena selama ini hal itu tidak pernah engkau ungkapkan, semuanya engkau simpan dalam-dalam seperti semua permasalahan berat, yg engkau hadapi selama ini.
Sekarang baru aku mengerti, wahai ibu… bahwa hari yang sulit bagi seorang ibu, adalah hari di mana anak laki-lakinya telah menikah dg seorang wanita… wanita yg telah mendapat keberuntungan…
Bagaimana tidak… Dia dapatkan seorang laki-laki yg telah matang pribadinya dan matang ekonominya, dari seorang ibu yg telah letih membesarkannya… Dari hidup ibu itulah ia dapatkan kematangan jiwa, dan dari wang ibu itu pulalah ia dapatkan kematangan ekonomi… Sekarang, -dengan ikhlas- ia berikan kepada seorang wanita yg tidak ada hubungan denganya, kecuali hubungan dua wanita yg saling berebut perhatian seorang laik-laki… Dia sebagai anak dari ibunya dan dia sebagai suami dari istrinya.

Ibuku sayang…
Maafkan aku… Ampunkan diriku… Satu tetesan air matamu adalah lautan api neraka bagiku… Janganlah engkau menangis lagi, janganlah engkau berduka lagi!… Karena duka dan tangismu menambah dalam jatuhku ke dalam api neraka!! Aku takut Ibu…
Kalau itu pula yg akan kuperoleh… kalau neraka pula yg akan aku dapatkan… izinkan aku membuang semua kebahagiaanku selama ini, hanya demi untuk dapat menyeka air matamu…
Kalau engkau masih akan murka kepadaku, izinkan aku datang kepadamu membawa segala yg aku miliki lalu menyerahkannya kepadamu, lalu terserah engkau… terserah engkau, mau engkau buat apa…
Sungguh ibu, dari hati aku katakan, aku tidak mahu masuk neraka, sekalipun aku memiliki kekuasaan Firaun… kekayaan Karun… dan keahlian Haman… Niscaya aku tidak akan tukar dengan kesengsaraan di akhirat sekalipun sesaat… Siapa pula yang tahan dengan azab neraka, wahai Bunda… maafkan aku anakmu, wahai ibu!!
Adapun sebutanmu tentang keluhan dan pengaduan kepada Allah ta’ala, bahwa engkau belum mahu mengangkatnya ke langit… bahwa engkau belum mahu berdoa kepada Alloh akan kedurhakaanku… Maka, ampun, wahai Ibu!!
Kalaulah itu yg terjadi… dan do’a itu tersampaikan ke langit! Salah pula ucapan lisanmu!! Apalah jadinya nanti diriku… Apalah jadinya nanti diriku… Tentu aku akan menjadi tunggul yg tumbang disambar petir… apalah gunanya kemegahan, sekiranya engkau do’akan atasku kebinasaan, tentu aku akan menjadi pohon yg tidak berakar ke bumi dan dahannya tidak bisa sampai ke langit, di tengahnya dimakan kumbang pula…
Kalaulah do’amu terucap atasku, wahai bunda… maka, tidak ada lagi gunanya hidup… tidak ada lagi gunanya kekayaan, tidak ada lagi gunanya banyak pergaulan…
Ibu dalam sepanjang sejarah anak manusia yg kubaca, tidak ada yg bahagia setelah kena kutuk orang tuanya. Itu di dunia, maka aku tidak dapat bayangkan bagaimana nasibnya di akherat, tentu ia lebih sengsara…

Ibu…
Setelah membaca suratmu, baru aku menyadari kekhilafan, kealfaan dan kelalaianku.
Ibu… Suratmu akan kujadikan “jimat” dalam hidupku… setiap kali aku lalai dalam berkhidmat kepadamu akan aku baca ulang kembali… tiap kali aku lengah darimu akan kutalqinkan diriku dengannya… Akan kusimpan dalam lubuk hatiku, sebelum aku menyimpannya dalam kotak wasiatku… Akan aku sampaikan kepada anak keturunanku, bahwa ayah mereka dahulu pernah lalai di dalam berbakti, lalu ia sadar dan kembali kepada kebenaran… ayah mereka pernah berbuat salah, sehingga ia telah menyakiti hati orang yg seharusnya ia cintai, lalu ia kembali kepada petunjuk.

Bunda…
Tua… engkau berbicara tentang tua, wahai bunda…? siapa yang tidak mengalami ketuaan, wahai ibu!!
Burung elang yg terbang di angkasa, tidak pernah bermain kecuali di tempat yg tinggi… suatu saat nanti dia akan jatuh jua, dikejar, dan diperebutkan oleh burung-burung kecil.
Singa, si raja hutan yg selalu memangsa, jika telah tiba tua, dia akan dikejar-kejar oleh anjing kecil tanpa ada perlawanan… Tidak ada kekuasaan yg kekal, tidak ada kekayaan yg abadi, yg tersisa hanya amal baik atau amal buruk yg akan dipertanggungjawabkan.

Ibu…
Do’akan anakmu ini, agar menjadi anak yg berbakti kepadamu, di masa banyak anak yang durhaka kepada orang tuanya… Angkatlah ke langit munajatmu untukku, agar aku akan memperoleh kebahagiaan abadi di dunia dan di akherat.

Ibu…
sesampainya suratku ini, insya Allah tidak akan ada lagi air mata yang jatuh karena anakmu… setelah ini tidak ada lagi kejauhan antaraku denganmu…
bahagiamu adalah bahagiaku… kesedihanmu adalah kesedihanku… senyumanmu adalah senyumanku… tangismu adalah tangisku…
Aku berjanji, untuk selalu berbakti kepadamu buat selamanya, dan aku berharap agar aku dapat membahagiakanmu selagi mataku masih bisa berkedip… maka bahagiakanlah dirimu… buanglah segala kesedihan, cobalah tersenyum… Ini kami… aku, istri, dan anak-anak sedang bersiap-siap untuk bersimpuh di hadapanmu, mencium tanganmu.
Salam hangat dari anakmu yg durhaka…

(Disadur dari kajian Ustadz Armen -rohimahulloh-)

SUMBER: http://addariny.wordpress.com/2010/04/12/ibuku-sayang/
SUMBER:http://atik085641095564.wordpress.com

Indahnya memaafkan, Sikap Memaafkan, dan Manfaatnya bagi Kesehatan



Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebaikan, serta jangan pedulikan orang-orang yang jahil. (QS. Al Qur’an, 7:199)

Dalam ayat lain Allah berfirman:

“…dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An Nuur, 24:22)

Mereka yang tidak mengikuti ajaran mulia Al Qur’an akan merasa sulit memaafkan orang lain. Sebab, mereka mudah marah terhadap kesalahan apa pun yang diperbuat. Padahal, Allah telah menganjurkan orang beriman bahwa memaafkan adalah lebih baik:

… dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. At Taghaabun, 64:14)

Juga dinyatakan dalam Al Qur’an bahwa pemaaf adalah sifat mulia yang terpuji. “Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia.” (Qur’an 42:43)

Berlandaskan hal tersebut, kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada,

sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an, “…menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.” (QS. Ali ‘Imraan, 3:134)

Para peneliti percaya bahwa pelepasan hormon stress, kebutuhan oksigen yang meningkat oleh sel-sel otot jantung, dan kekentalan yang bertambah dari keeping-keping darah, yang memicu pembekuan darah menjelaskan bagaimana kemarahan meningkatkan peluang terjadinya serangan jantung. Ketika marah, detak jantung meningkat melebihi batas wajar, dan menyebabkan naiknya tekanan darah pada pembuluh nadi, dan oleh karenanya memperbesar kemungkinan terkena serangan jantung.

Pemahaman orang-orang beriman tentang sikap memaafkan sangatlah berbeda dari mereka yang tidak menjalani hidup sesuai ajaran Al Qur’an. Meskipun banyak orang mungkin berkata mereka telah memaafkan seseorang yang menyakiti mereka, namun perlu waktu lama untuk membebaskan diri dari rasa benci dan marah dalam hati mereka. Sikap mereka cenderung menampakkan rasa marah itu.

Di lain pihak, sikap memaafkan orang-orang beriman adalah tulus. Karena mereka tahu bahwa manusia diuji di dunia ini, dan belajar dari kesalahan mereka, mereka berlapang dada dan bersifat pengasih. Lebih dari itu, orang-orang beriman juga mampu memaafkan walau sebenarnya mereka benar dan orang lain salah. Ketika memaafkan, mereka tidak membedakan antara kesalahan besar dan kecil. Seseorang dapat saja sangat menyakiti mereka tanpa sengaja. Akan tetapi, orang-orang beriman tahu bahwa segala sesuatu terjadi menurut kehendak Allah, dan berjalan sesuai takdir tertentu, dan karena itu, mereka berserah diri dengan peristiwa ini, tidak pernah terbelenggu oleh amarah.

Menurut penelitian terakhir, para ilmuwan Amerika membuktikan bahwa mereka yang mampu memaafkan adalah lebih sehat baik jiwa maupun raga. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniyah namun juga jasmaniyah. Sebagai contoh, telah dibuktikan bahwa berdasarkan penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress [tekanan jiwa], susah tidur dan sakit perut sangatlah berkurang pada orang-orang ini.
Memaafkan, adalah salah satu perilaku yang membuat orang tetap sehat, dan sebuah sikap mulia yang seharusnya diamalkan setiap orang

Dalam bukunya, Forgive for Good [1] [Maafkanlah demi Kebaikan], Dr. Frederic Luskin menjelaskan sifat pemaaf sebagai resepi yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat dan stres. Menurut Dr. Luskin, kemarahan yang dipelihara menyebabkan dampak ragawi yang dapat teramati pada diri seseorang. Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa:

Permasalahan tentang kemarahan jangka panjang atau yang tak berkesudahan adalah kita telah melihatnya menyetel ulang sistem pengatur suhu di dalam tubuh. Ketika Anda terbiasa dengan kemarahan tingkat rendah sepanjang waktu, Anda tidak menyadari seperti apa normal itu. Hal tersebut menyebabkan semacam aliran adrenalin yang membuat orang terbiasa. Hal itu membakar tubuh dan menjadikannya sulit berpikir jernih – memperburuk keadaan.

Sebuah tulisan berjudul “Forgiveness” [2] [Memaafkan], yang diterbitkan Healing Current Magazine [Majalah Penyembuhan Masa Kini] edisi bulan September-Oktober 1996, menyebutkan bahwa kemarahan terhadap seseorang atau suatu peristiwa menimbulkan emosi negatif dalam diri orang, dan merusak keseimbangan emosional bahkan kesehatan jasmani mereka. Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa orang menyadari setelah beberapa saat bahwa kemarahan itu mengganggu mereka, dan kemudian berkeinginan memperbaiki kerusakan hubungan. Jadi, mereka mengambil langkah-langkah untuk memaafkan. Disebutkan pula bahwa, meskipun mereka tahan dengan segala hal itu, orang tidak ingin menghabiskan waktu-waktu berharga dari hidup mereka dalam kemarahan dan kegelisahan, dan lebih suka memaafkan diri mereka sendiri dan orang lain.

Semua penelitian yang ada menunjukkan bahwa kemarahan adalah sebuah keadaan pikiran yang sangat merusak kesehatan manusia. Memaafkan, di sisi lain, meskipun terasa berat, terasa membahagiakan, satu bagian dari akhlak terpuji, yang menghilangkan segala dampak merusak dari kemarahan, dan membantu orang tersebut menikmati hidup yang sehat, baik secara lahir maupun batin. Namun, tujuan sebenarnya dari memaafkan –sebagaimana segala sesuatu lainnya – haruslah untuk mendapatkan ridha Allah. Kenyataan bahwa sifat-sifat akhlak seperti ini, dan bahwa manfaatnya telah dibuktikan secara ilmiah, telah dinyatakan dalam banyak ayat Al Qur’an, adalah satu saja dari banyak sumber kearifan yang dikandungnya.

              : http://atik085641095564.wordpress.com/2010/07/09/   
              : http://www.islamonline.net/

Monday, November 29, 2010

Pendebat dan lelaki beriman

 

Pada suatu hari, seorang lelaki pendebat datang bertemu seorang  yang beriman lalu dia bertanya, 

Mengapakah Iblis diciptakan daripada api, kemudian dia diseksa pula dengan api dan pasti dia tidak akan berasa sakit bukan"??

lalu orang beriman itu berfikir sejenak. Kemudian dia mengambil segumpal tanah kering dan mencampakkannya kepada lelaki itu. Lalu, ternampak tanda-tanda kesakitan dan marah pada air muka lelaki itu. 

Apabila melihat keadaan sedemikian, dia bertanya kepada lelaki itu,

Adakah kamu sakit?”

Lelaki(Pendebat) itu menjawab, 

Ya! Saya sakit.”


Lantas Dia pun berkata, 

Engkau seorang manusia yang dijadikan daripada tanah, dan engkau juga akan disakiti (dihimpit) dengan tanah.” 

Lelaki itu terdiam tidak menjawab, tetapi dia telah faham dengan maksud kata-kata orang beriman itu

kemudian lelaki beriman itu berkata lagi,

"Begitulah jua keadaan Iblis dia diciptakan Allah daripada api dan dia juga akan diseksa dengan api." 





Monday, November 22, 2010

kisah seorang NELAYAN


 
Suatu hari, seorang usahawan sedang berkelah bersama keluarganya di sebuah kampung nelayan. Dia merasa terganggu apabila melihat seorang nelayan sedang berehat-rehat di bawah pohon kelapa.

“Pakcik, kenapa pakcik tidak turun ke
laut?”

“Pakcik sudah turun ke laut semalam
dan pakcik perlu beristirehat.”

“Kalau pakcik turun ke laut lagi,
pakcik akan dapat menangkap banyak
ikan.”

“Lalu … ?”

“Pakcik boleh mengumpulkan wang untuk
membeli sebuah perahu.”

“Lalu … ?”

“Dengan perahu itu, pakcik tak perlu
lagi menyerahkan sebahagian pendapatan
pakcik kepada tuan punya perahu.”

“Lalu … ?”

“Pakcik boleh mengumpulkan banyak wang
untuk membeli perahu kedua …”

“Lalu … ?”

“Dengan dua perahu, pakcik boleh
mengumpulkan banyak wang dan
seterusnya pakcik boleh membeli perahu
ketiga, keempat dan seterusnya …”

“Lalu … ?”

“Jika perahu pakcik sudah banyak,
pakcik boleh menyewakan perahu pakcik
kepada nelayan-nelayan lain sehingga
pakcik tidak perlu lagi turun ke laut
…”

“Lalu … ?”

“Pakcik boleh hidup tenang dan
bersantai sepanjang masa …”

Nelayan itu tersenyum lalu
berkata, “Menurut Encik, apa yang
Pakcik tengah buat sekarang?”

PENGAJARAN:

Nasihat usahawan itu baik tetapi apa
yang dilakukan oleh nelayan tersebut
juga mengajar kita satu hal iaitu
HIDUP PERLU SEIMBANG.


Pepatah Inggeris
ada mengatakan:

Berkerja terus menerus tanpa
istirehat akan menghasilkan orang
seperti Jack yang mati dengan cepat
dan Jean seorang janda yang kaya.


Kita perlu secara sengaja berhenti sejenak dari kerja keras dan rutin seharian kita untuk menikmati segarnya
rumput-rumput yang hijau, kicauan burung di udara dan harumnya mawar yang sedang mekar.

1001 nostalgia


Seorang pemuda yang sedang berada di tahun akhir pengajiannya mengharapkan sebuah kereta sport daripada ayahnya...lantas, si pemuda memberitahu hajatnya kepada ayahnya, seorang hartawan yang ternama...si ayah hanya senyum...si anak bertambah yakin, andai keputusan peperiksaannya begitu cemerlang, pasti kereta itu akan menjadi miliknya.

Beberapa bulan berlalu...ternyata si anak, dengan berkat kesungguhannya..telah beroleh kejayaan yang cukup cemerlang..hatinya berbunga keriangan...satu hari...si ayah memanggil si anak ke bilik bacaannya..si ayah memuji anaknya...sambil menyatakan betapa bangga hati seorang bapa sepertinya dgn kejayaan si anak yang cukup cemerlang...si anak tersenyum puas...di ruang matanya terbayang kilauan kereta sport merah yang selama ini menjadi idamannya itu...si ayah yang bagaikan mengerti kehendak si anak, menghulurkan sebuah kotak yang berbungkus rapi dan cantik...si anak terkesima...sungguh...bukan itu yg dihajatkan...dengan hati yang berat...kotak itu bertukar tangan...matanya terarah kepada riak wajah ayahnya...yang tidak menunjukkan sebarang perubahan,, seolah-olah tidak dapat membaca tanda tanya yang bersarang di hatinya....

Dalam pada itu, si anak masih membuka pembalut yang membungkus kotak itu...penutup kotak dibuka...apa makna semua ini???..sebuah Al-Quran kecil,comel dgn cover kulit..tinta emas menghiasi tulisan khat di muka hadapan...si anak memandang ayahnya...terasa dirinya dipermainkan...amarahnya membuak...nafsu mudanya bergelojak...


Ayah sengaja mempermainkan saya...ayah bukannya tak tahu betapa saya menyukai kereta tu...bukannya ayah tak mampu untuk membelikannya...sudah ayah...bukan al-Quran ni yang saya nak...katanya keras...
'
al-Quran itu dihempaskan keatas meja bacaan...si anak terus meninggalkan si ayah..tanpa memberi walaupun sesaat untuk si ayah bersuara...pakaiannya disumbatkan ke dalam beg..lantas, dia meninggalkan banglo mewah Ayahnya...memulakan kehidupan baru dengan sekeping ijazah yg dimilikinya....

10 tahun berlalu..si anak kini merupakan seorang yang berharta...punyai syarikat sendiri...dengan isteri yg cantik dan anak-anak yang sihat..cukup membahagiakan...namun hatinya tersentuh..

Sudah 10 tahun..sejak peristiwa itu dia tidak pernah menjenguk ayahnya...sedang dia berkira-kira sendiri...telefonnya berdering...dari peguam ayahnya...ayahnya meninggal dunia semalam...dengan mewariskan semua hartanya kepada si anak...si anak diminta pulang untuk menyelesaikan segala yg berkaitan perwarisan harta...

Dan buat pertama kalinya setelah dia bergelar bapa...si anak pulang ke banglo ayahnya...memerhatikan banglo yg menyimpan 1001 nostalgia dlm hidupnya...hatinya sebak..bertambah sebak apabila mendapati di atas meja di bilik bacaannya...al-quran yang di hempaskannya masih lagi setia berada di situ...bagaikan setianya hati ayahnya mengharapkan kepulangannya selama ini...perlahan-lahan langkahnya menuju ke situ...mengambil al-quran itu..membelek-beleknya dengan penuh keharuan...tiba-tiba...jatuh sesuatu dari al-quran itu...segugus kunci...di muka belakang al-quran itu...sebuah sampul surat ternyata diselotepkan disitu...Kunci itu segera dipungut...hatinya tertanya-tanya...nyata sekali...di dalam sampul surat itu...terdapat resit pembelian kereta idamannya...dibeli pada hari konvokesyennya...

Dengan bayaran yg telah dilunaskan oleh si ayah...sepucuk warkah tulisan tangan org yg amat dikenalinya selama ini..


"Hadiah teristimewa untuk putera kesayanganku...."

air mata si anak menitis deras...hatinya bagai ditusuk sembilu.. penyesalan mula bertandang...namun semuanya sudah terlambat...

p/s: Hargailah pemberian seseorang walaupun ianya amat kecil di mata kita.

Sunday, November 14, 2010

Hukum musik mengikut ISLAM

Muzik Pada Kaca Mata Islam

♫ MUZIK ANTARA PRO DAN KONTRA ♫

[MUQADDIMAH]
Di antara perkara yang masih menjadi khilaf di kalangan ulama’ ialah hukum muzik. Para ulamak’ sejak zaman silam telah cuba mengupas masalah ini berdasarkan kepada kefahaman nas-nas yang ada diseragamkan dengan uslub istinbat hokum sebagimana yang tertera di dalam kanun perundangan Islam. Muzik terus menjadi salah saau isu yang sukar untuk diputuskan hukumnya. Para ulama’ dan fuqaha’ telah berijtihad dalam menentukan hukumnya dan mereka terbahagia kepada dua golongan; golongan yang mengharuskan dan golongan yang mengharamkan. Masing-masing mempunyai hujah-hujah yang tersendiri dalam memahami nas-nas yang berkaitan dengan perkara ini.

Muzik di masa kini telah mengalami perkembangan yang begitu pesat dibandingkan dengan zaman permulaan Islam dan seterusnya di zaman-zaman keagungan Islam sebagai kuasa besar dunia. Kalau dulu, irama muzik tidak dapat didengari melainkan di majlis-majlis atau kelab-kelab muzik dan nyanyian. Dahulu alatan muzik hanya dimainkan dan iramanya hanya didengar oleh golongan-golongan tertentu seperti peminum-peminum arak dan lelaki-lelaki pondan yang digolongkan sebagai ahli fasiq dan maksiat. Golongan lelaki yang mempunyai sifat kelelakian yang sempurna dianggap ‘aib sekiranya memainkan atau mendengar irama muzik. Kini, segala-galanya telah berubah. Dunia moden menyaksikan revolusi kebendaan yang menakjubkan. Muzik kini boleh didengari di mana-mana sahaja. Buka sahaja TV atau radio, insan moden boleh mendengar berbagai-bagai jenis muzik, tidak perlu bersusah-payah menghadiri majlis atau kelab muzik. Lelaki yang sentiasa mendengar alunan nasyid atau pukulan duf (rebana kecil) atau gendang melalui kaset dan seumpamanya adalah perkara biasaa yang tidak mengaibkan dan tidak menjatuhkan maruahnya.[i]
Muzik-muzik yang didengari melalui TV atau radio yang digunakan untuk rancangan-rancangan seumpama berita, peristiwa atau perpindahan antara satu rancangan dengan rancangan yang lain adalah muzik-muzik yang tidak menimbukan ‘aib kepada pendengarnya di masa kini.

Berdasarkan kepada waqi’ yang berubah dan uruf atau adat umat Islam yang bertukar, penulis cuba mengupas kembali persoalan muzik yang menjadi tanda tanya kebanyakan umat Islam di masa kini. Di dalam risalah ringkas ini penulis akan cuba membentangkan pandangan-pandangan ulama’ dahulu dan sekarang dan cuba membuat kesimpulan di akhir perbahasan ini.


♫ MANUSIA DAN SENI ♫

Manusia adalah makluk yang dibekalkan oleh Allah SWT dengan perasaan, tabiat dan kecenderungan semulajadi yang sudah menjadi fitrah kejadian manusia.. Jiwa dan perasaan manusia perlu disahut kehendak-kehendaknya sebagaimana manusia memberikan hak-hak tertentu kepada akal dan tubuh badannya.

Apabila jiwa dan batin ditekan atau tidak disahut kecenderungannya, ia akan cepat memberontak menyebabkan kehidupan tidak tenteram. Islam telah mengiktiraf hak-hak batin manusia melalui firman Allah Taala:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ ۝
❝ Dihiaskan (dan dijadikan indah) kepada manusia: Kesukaan kepada benda-benda yang diingini nafsu, iaitu perempuan-perempuan dan anak-pinak; harta benda yang banyak bertimbun-timbun, dari emas dan perak; kuda peliharaan yang bertanda lagi terlatih dan binatang-binatang ternak serta kebun-kebun tanaman. Semuanya itu ialah kesenangan hidup di dunia dan (ingatlah), pada sisi Allah ada tempat kembali yang sebaik-baiknya (iaitu Syurga). ❞
[Ali Imran : 14]

Namun, dalam menyahut kehendak batin dan jiwa, Islam meletakkan batas-batas tertentu. Batas-batas ini sekiranya dilanggar akan menyebabkan kerosakan dan kemudaratan kepada individu dan masyarakat muslim. Di sinilah terpancarnya keunggulan Islam dalam memastikan kebahagiaan hidup makhlukNya di bumi Allah SWT yang menjadikan manusia dan Maha Mengetahui seelok belok dan kehendak hambaNya. Lantaran itu, Allah murka kepada orang yang mengharamkan perhiasan dan kelazatan-kelazatan yang telah dikurniakan olehNya kepada hamba-hambaNya di pentas dunia ini.

FirmanNya:

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ ۚ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
❝ Katakanlah (wahai Muhammad): Siapakah yang (berani) mengharamkan perhiasan Allah yang telah dikeluarkanNya untuk hamba-hambaNya dan demikian juga benda-benda yang baik lagi halal dari rezeki yang dikurniakanNya? Katakanlah: Semuanya itu ialah (nikmat-nikmat) untuk orang-orang yang beriman (dan juga yang tidak beriman) dalam kehidupan dunia; (nikmat-nikmat itu pula) hanya tertentu (bagi orang-orang yang beriman sahaja) pada hari kiamat. Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat keterangan Kami satu persatu bagi orang-orang yang (mahu) mengetahui. ❞
[Al-A’raaf : 32]

FirmanNya lagi:

ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
❝ Jangan kamu lupa bahagian kamu daripada kehidupan dunia ini. ❞
[Al-Qasas : 77]

Muzik adalah sebahagian daripada seni. Mendengar irama muzik merupakan satu wasilah untuk melapangkan jiwa yang hambar dan fikiran yang berserabut. Dengan menyanyi (atau bernasyid) dan mendengar irama-irama tertentu seseorang itu boleh gembira atau sedih, tenang atau gelisah dan sebagainya. Perkara ini adalah fitrah yang tidak dapat dinafikan oleh sesiapa pun, tua atau muda, kecil atau besar. Hatta janin di dalam kandungan ibu bertindak balas dengan suara nyanyian ibunya sebagaimana hasil kajian yang dilakukan oleh Persatuan Kajian Sains Diraja England.[ii]

Perkembangan dunia seni mempunyai kaitan rapat dengan perkembangan tamadun. Ia berkembang selari dengan perkembangan sesebuah tamadun bangsa. Sekiranya kita kembali kepada sejarah ketamadunan Islam kita mendapati kebenaran fakta ini. Di permulaan pembinaan tamadun Islam, iaitu di zaman Rasulullah SAW dan Khulafa’ Ar-Rasyidin, seni tidak begitu dititikberatkan kerana umat Islam sibuk berjuang di jalan Allah SWT untuk meluaskan empayar Islam. Tiada masa bagi mereka untuk bersuka ria dan memberikan perhatian kepada perkara-perkara sisipan dalam kehidupan seperti seni. Apabila kuasa Islam semakin meluas dan berlaku persekongkolan tamadun dengan Parsi, India, Rom dan sebagainya, bidang seni semakin berkembang.[iii] Umat Islam yang hidup dalam keamanan dan kemewahan mula mencari hiburan dan suka ria untuk memenuhi kelazatan dan kesenangan hidup. Lantaran itu berkembanglah dunia seni dengan pesatnya. Alat-alat muzik diimport daripada tamadun-tamadun lain seperti Parsi dan India. Mereka mula tenggelam dalam dunia kemewahan, bersuka ria dan hiburan yang berlebihan dan bercanggah dengan batas-batas Allah SWT. Natijahnya umat mula melupai kewajipan mereka. Kehidupan bercampur aduk dengan unsur-unsur maksiat, empayar Islam semakin lemah kerana lemahnya pemimpin dan rakyat, akhirnya satu demi satu jajahan Islam dirampas oleh musuh dan mengakibatkan kehancuran empayar Islam dan kehinaan umatnya. Inilah gambaran apa yang berlaku kepada Khilafah Othmaniyyah di Turki.

Di abad ini alam Islami menghadapi perkembangan dunia seni yang lebih mencabar. Dengan berlakunya persekongkolan tamadun dengan barat, umat Islam diserang dengan arus massa yang amat deras. Tamadun material Barat telah mengeksport ke dunia Islam berbagai-bagai corak seni yang meliputi perfileman, drama, nyanyian, dokumentari dan seumpamanya melalui wasilah-wasilah massa seperti TV, radio, wayang, video, komputer, satelit dan sebagainya.

Barat yang tidak mengerti halal dan haram menjadikan dunia seni seumpama neraka jahannam yang menjadi ancaman yang amat merbahaya dan suka ditangkis oleh umat Islam di masa kini. Umat Islam seolah-olah sudah tidak bermaya lagi untuk menangkis serangan-serangan tersebut. Mereka seumpama ‘Pak Angguk’ yang menerima sahaja segala apa yang dikurniakan oleh barat kepada mereka tanpa menilai baik atau buruk, membina atau tidak. Lantaran itu menjadi kewajipan umat Islam untuk menghadapi serangan media massa yang hebat ini demi keagungan Islam. Umat Islam perlu mengemukakan alternatif-alternatif baru yang dapat menggalang-gantikan bentuk-bentuk hiburan Barat yang jauh lebih melencong daripada batas-batas Allah SWT.


♫ BUKU² KARANGAN ULAMA’² TENTANG MUZIK DAN NYANYIAN ♫

Para ulama’ Islam sejak zaman silam telah membincangkan masalah ini dengan panjang lebar. Ada di antara mereka yang mengarang buku khas membincangkan masalah ini dan ada yang memasukkan perbincangan mereka bersama bab-bab lain.
Di antara buku-buku karangan yang khas membincangkan masalah ini ialah:

❶ As-Simaa’ :
Muhammad bin Thahir Al-Maqdisi Al-Qaisarani (448H – 507H)

❷ Hukmul Islam fil Ghina’ :
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah (w. 751H)

❸ Kaffur Ri’aa ‘An Muharramatil Lahwi Was Simaa’ :
Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 973H)

❹ Kasyful Qinaa’ ‘An Wajhis Simaa’ :
Abdul Wahab As-Sya’rani (898H – 973H)

❺ Iedhahud Dhilalat Fi Simaa’il Aalat :
Abdul Ghani An-Nablusi (1050H – 1143H)

❻ Al-Imtaa’ Wal Intifaa’ bi Mas’alati Simaa’is Simaa’ :
Ibnu Durraj Al-Busti (w. 693H)

❼ Farhul Asmaa’ Bi Rukhasis Simaa’ :
Al-Imam Mohd As-Syazili At-Tunisi.

❽ Al-Imtaa’ fi Ahkamis Simaa’ :
Al-Kamal Jaafar Al-Idfawi.

Sementara buku-buku yang diselitkan di dalamnya perbincangan tentang perkara ini, di antaranya ialah:

➀ Talbisul Iblis :
Ibnul Jauzi Al-Baghdadi (w. 579H)

➁ Madaarijus Saalikin wa Ighatsatul Lihafan :
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah (w. 751H)

➂ Rasaa’il Ibn Hazm & Al-Muhalla :
Ibnu Hazm Al-Andalusi

➃ Kalimaatus Sufiyyah :
Ibnu Sina (w. 328H)

➄ ‘Awaariful Ma’arif & Aadabul Muridien :
As-Sahrurudi Al-Baghdadi.

➅ Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah :
Al-Imam Al-Qusyairi (367H – 465H)

➆ Al-Lama’ :
Abu Nasr As-Siraj At-Thusi.

➇ Ihya Ulumiddin :
Abu Hamid Al-Ghazali (450H – 505H).

➈ Al-Mughni :
Ibnu Qudamah Al-Hanbali.

➉ Mughni Al-Muhtaj :
Al-Khatib As-Syarbaini (w. 977H).

⑪ Hasyiar Raddil Mukhtar :
Ibnu ‘Abidin Al-Hanafi.

⑫ Naylul Authar :
Al-Imam Asy-Syaukani.

Ulama’-ulama’ terkini tidak ketinggalan mengemukakan pandangan dan kajian mereka berdasarkan waqi’ masa kini. Di antara buku-buku yang menyentuh hal ini ialah:

❶ As-Simaa’ ‘Indas Sufiyyah :
Dr. Kaukab ‘Amir (Universiti ‘Ain Syams).

❷ Al-Islam wal Funun Al-Jamilah :
Dr. Muhammad ‘Imarah.

❸ Al-Islam wa Qadhaya Al-Fann Al-Muasir :
Yasin Muhammad Hasan.

❹ Malamih Al-Mujtama’ Al-Muslim :
Dr. Yusuf Al-Qardhawi.

❺ Al Mufassal fi Ahkamil Mar’ah wal Baitil Muslim - juzuk 4 bab 8 :
Al-Lahw wal La’b : Dr. Abdul Karim Zaidan.

❻ Al-Lahwul Mubah fil Asril Hadith Bima Yuwafiqusy Syar’al Hanif :
Abu Huzaifah Ibrahim bin Muhammad.


♫ JENIS-JENIS ALAT MUZIK[iv] ♫

★Alat Yang Dipukul Atau Diketuk
Antaranya:

☛ Ad-Daf – rebana kecil.
☛ Tamborin.
☛ Gendang – At-Thabl.
☛ Al-Kubisah – sejenis gendang yang ramping tengahnya, lebar kedua hujungnya (tabla).
☛ As-Safaaqatan @ As-Sanj – dua piring tembaga yang dilagakan untuk menghasilkan bunyi.
☛ Gong.

★Alat Yang Dipetik
Antaranya:

☛ Al-‘Ud atau Al-Muzhir : Kecapi
☛ Ar-Rabab : Rebab (seperti biola)
☛ At-Tanbur : Gambus
☛ Al-Bazaq : Sejenis gambus kecil.
☛ Biola.
☛ Gitar
☛ Piano.

★Alat Yang Ditiup
Antaranya:

☛ An-Nay : Sejenis serunai
☛ Al-Mizmar : Serunai
☛ Asy-Syababah / Al-Yara’ : sejenis seruling.
☛ Klarinet
☛ Saksofon
☛ Trompet
☛ Organ
☛ Trombon
☛ Harmonika


♫ HUKUM ALAT² MUZIK DI DALAM KHAZANAH ULAMA' SILAM ♫

★Alat-alat yang dipukul atau diketuk[v]

♪ Ad-Duff (Rebana Kecil)
-Duf ialah sejenis alat muzik yang disepakati oleh para ulamak keharusan penggunaannya. Hukum ini berdasarkan kepada hadith-hadith Rasulullah SAW yang secara terang menyebut keharusan penggunaan alat ini. Di antaranya:

i. Hadith riwayat Muhammad bin Hatib daripada Rasulullah SAW[vi]:
“...Pemisah antara halal dan haram ialah pukulan duf.”

ii. Hadith riwayat Khalid bin Zakuan daripada Ar-Rabie’ binti Mu’awwiz bin ‘Afra’ :
“Masuk Nabi SAW – ketika mula-mula berkesedudukan denganku (selepas perkahwinan)- lalu duduk di atas hamparan seperti kedudukan kamu (Khalid bin Zakuan) daripada aku. Di ketika itu beberapa hamba perempuanku sedang memukul duf dan meratapi kematian bapa-bapaku dalam Peperangan Badar. Salah seorang daripada mereka mendendangkan kata-kata: Di sisi kami Nabi yang mengetahui perkara akan datang. Lantas Nabi SAW menegur: “Tinggalkanlah kata-kata ini dan teruskan nyanyianmu.”
[Hadis Riwayat Bukhari]

iii. Hadith yang diriwayatkan oleh Imam Tirmizi di dalam Sunannya[vii]:
“... Keluar Nabi SAW dalam satu peperangan. Apabila pulang, datang seorang hamba perempuan hitam lalu berkata: “ Wahai Rasulullah, aku telah bernazar sekiranya engkau pulang dengan selamat, aku akan memukul duf sambil menyanyi”. Nabi SAW menjawab: “Sekiranya engkau telah bernazar, buatlah sebagaimana dinazarkan, sekiranya tidak, maka tidak perlu”.

�Hukum Lelaki Yang Memukul Duf

Para ulamak bersepakat bahawa wanita dibenarkan memukul duf. Tetapi mereka berselisih pendapat pada hukum lelaki menggunakan alat ini, adakah harus atau sebaliknya.
Dalam hal ini terdapat dua pandangan:

i. Pendapat yang mengatakan haram lelaki memukul duf. Mereka menyandarkan pandangan ini kepada adat dan ‘uruf. Di mana memukul duf (di zaman dahulu) hanya dilakukan oleh kaum wanita sahaja. Oleh itu, lelaki yang memukul duf dianggap meniru perbuatan kaum wanita dan termasuk di dalam golongan yang disifatkan oleh Nabi SAW:
“Rasulullah SAW melaknat lelaki-lelaki yang menyerupai (meniru) wanita” – hadith dikeluarkan oleh Bukhari di dalam Sahihnya daripada ‘Ikrimah daripada Ibnu Abbas. Dikeluarkan juga oleh Ahmad di dalam Musnadnya daripada hadith Ata’ bin Abi Rubah daripada Abu Hurairah.
[Sahih Bukhari 8/305, Al-Fathul Bari 19/322]

Mereka juga berdalilkan hadith-hadith yang hanya menyebut kaum wanita dan hamba-hamba perempuan sahaja memukul duf tanpa ada riwayat yang menyebut kaum lelaki di zaman salaf memukul duf.

Pendapat ini ialah pendapat sebahagian ulamak mazhab Syafi’e, jumhur ulamak mazhab Hanbali dan Asbagh – seorang ulamak mazhab Maliki.

ii. Pendapat yang mengharuskan lelaki memukul duf, kerana tiada nas yang mengharamkannya. As-Subki (seorang ulamak Syafie) mengatakan:
“...dari segi asalnya, lelaki dan wanita bersekongkol dalam hukum-hakam melainkan ada nas yang membezakan antara keduanya. Adapun dalam masalah ini tiada nas yang membezakan antara lelaki dan wanita dari sudut keharusan memukul duf. Tambahan pula, memukul duf tidak hanya dikhaskan untuk wanita semata-semata.”

Mereka yang berpendapat sedemikian ialah Jumhur ulamak Maliki, Jumhur Mazhab Syafie dan pendapat Imam Ahmad bin Hanbal dari sebahagian pengikutnya.

�Bilakah Diharuskan Lelaki Memukul Duf?

Berlaku perselisihan pendapat di kalangan fuqaha’ pada tujuan dan keadaan yang dibenarkan memukul duf. Mereka terbahagi kepada dua mazhab:

Pendapat Pertama:
Harus memukul duf untuk melahirkan rasa kegembiraan dan mewujudkan suasana kemeriahan di dalam upacara-upacara atau sambutan yang dibenarkan oleh syara’. Umpamanya perkahwinan, berkhatan, sambutan hari raya, menyambut kepulangan musafir (haji dan lain-lain) dan sebagainya. Mereka yang berpendapat demikian ialah sebahagian ulamak mazhab Hanafi, Jumhur mazhab Syafie, sebahagian ulamak mazhab Hanbali, sebahagian ulamak mazhab Maliki dan Ibn Hazm Al-Andalusi.

Pendapat Kedua:
Memukul duf diharuskan untuk upacara perkahwinan sahaja. Ia adalah pendapat yang masyhur dalam mazhab Maliki, jumhur fuqaha’ mazhab Hanafi, sebahagian ulamak mazhab Hanbali dan salah satu pendapat fuqaha’ Syafie.

♪ Gendang (Tabla)

Para fuqaha’ berikhtilaf pada hukum memukul gendang dan mendengar bunyinya.
Pendapat-pendapat mereka adalah seperti berikut:

i. Fuqaha Hanafi dan sebahagian Fuqaha’ mazhab Syafie:
Haram memukul gendang yang bertujuan untuk bersuka ria semata-mata. Sementara fuqaha’ Syafie bersepakat mengharamkan sejenis gendang yang dinamakan ‘Kubah’, sama ada bertujuan untuk bersuka ria semata-mata atau maksud-maksud yang lain.

ii. Fuqah’ Maliki:
Haram memukul gendang dan mendengar pukulannya (dan seluruh jenisnya) melainkan di dalam upacara perkahwinan.

iii. Ulamak Hanafi:
Memukul gendang untuk tujuan-tujuan selain daripada bersuka ria seperti gendang perang, perkahwinan, dan gendang menyambut ketibaan musafir adalah diharuskan. Termasuk di dalam hukum ini, juga gendang sahur yang digunakan pada bulan Ramadhan untuk mengejutkan umat Islam pada waktu sahur.

iv. Fuqaha’ Syafie:
Harus memukul gendang-gendang selain daripada kubah, gendang-gendang untuk bersuka ria semata-mata dan Al-Kabar. Iaitu harus memukul gendang perang, gendang haji, gendang sahur dan gendang hari raya.

v. Fuqaha’ Hanbali:
Haram menggunakan keseluruhan alat yang melalaikan melainkan duf. Mengikut mazhab mereka, haram memukul gendang sama ada dalam upacara perkahwinan atau sebagainya.

♪ Al-Kubah (sejenis gendang yang ramping tengahnya dan lebar kedua hujungnya.)

Para fuqaha’ Syafie sepakat mengharamkan alat ini. Pengharamannya sebagaimana yang diriwayatkan daripada Ar-Rafi’ie dan An-Nawawi kerana ia adalah alat yang biasa digunakan oleh lelaki-lelaki pondan. Al-Imam An-Nawawi menyatakan,
“...tiada beza antara kubah dengan duf dan gendang-gendang yang lain melainkan kubah, ia adalah alat yang menjadi syiar lelaki-lelaki pondan. Sekiranya tidak, hukumnya sudah pasti seperti hukum duf.”

♪ As-Safaqataan, Sejenis alat yang terdiri daripada dua piring tembaga yang dilagakan untuk mengeluarkan bunyi.

Para fuqaha’ dalam menentukan hukumnya terbahagi kepada 4 mazhab:

i. Hanafi, Hanbali dan yang muktamad di dalam mazhab Syafie, iaitu haram memukul dan mendengar iramanya.

ii. Sebahagian ulamak mazhab Syafie, Ibn Hazm Al-Andalusi, Abdul Ghani An-Nablusi dan Ibn Tahir Al-Qaisarani, iaitu harus memukul dan mendengar bunyinya.

iii. Maliki, iaitu harus menggunakannya di dalam upacara perkahwinan sahaja.

iv. Sebahagian fuqaha’ mazhab Syafie, tidak memutuskan hukumnya sama ada halal atau haram.



★ Hukum Alat Muzik Yang Dipetik[viii]

Para fuqaha’ berselisih pendapat di dalam masalah ini dan mereka terbahagi kepada dua mazhab.

➀ Pendapat yang mengharamkannya – samada digunakan semasa upacara perkahwinan atau sebagainya. Ia adalah pendapat Ibnu Abbas RA, fuqaha’ Hanafi, fuqaha’ Syafie, fuqaha’ Hanbali dan pendapat yang rajih (terpilih) dalam mazhab Maliki. Ibnu hajar Al-Haitami pula menafikan wujudnya khilaf ulamak di dalam pengharamannya. Sementara Abul Abbas Al-Qurtubi dan Salim Ar-Razi menyatakan berlaku ijmak ulamak di dalam pengharamannya.

Dalil Mereka:

i. Diriwayatkan daripada Ibnu Abbas bahawa beliau mentafsirkan (lahwul hadith) yang difirmankan di dalam surah 6 Surah Luqman dengan alat-alat yang melalaikan, dan di antaranya ialah alat-alat muzik. Alat-alat yang dipetik tergolong di dalam alat-alat muzik yang melalaikan.

ii. Diriwayatkan daripada Abdul Rahman bin Ghanam, daripada Abu Malik Al-Asy’ari, beliau mendengar Nabi SAW bersabda:
“...Akan ada beberapa kaum daripada umatku yang menghalalkan zina, sutera, arak dan alat-alat muzik (al-ma’azif – lafaz am yang meliputi juga alat-alat yang dipetik – pent.)” – Riwayat Bukhari; ... dan alat-alat yang dipetik adalah sebahagian daripada alat-alat muzik yang disebut di dalam hadith berkenaan.

iii. Daripada Abu’ Umamah, sabda Nabi SAW[ix]:
“.... sesungguhnya Allah mengutuskan aku sebagai rahmat kepada sekalian alam. Allah SWT memerintahkan aku menghapuskan alat-alat muzik dan serunai. Oleh itu tidak harus membeli hamba-hamba wanita pemain alat-alat tersebut dan tidak harus menjual, mengajar dan meniagakan mereka. Begitu juga, harga mereka adalah haram.”

iv. Diriwayatkan daripada Rasulullah SAW[x]: Ijmak :
Ibnu Hajar Al-Haitami berkata, “...alat-alat yang dipetik adalah alat-alat yang biasa digunakan oleh golongan fasiq dan maksiat. Ulamak telah berijmak pada pengharamannya. Sesiapa yang menyangka ada khilaf pada perkara ini, sesungguhnya telah melakukan kesilapan”.

v. Dalil Aqli:
· Alat-alat tersebut menghiburkan dan melalaikan daripada zikrullah, solat dan membaca A-Qur’an. Di samping itu berlaku juga pembaziran wang dan masa.
· Alat-alat tersebut adalah syiar golongan fasiq dan maksiat. Islam melarang meniru cara hidup golongan-golongan ini.
· Kelazatan yang dihasilkan dengan mendengar alat-alat ini boleh membawa kepada maksiat dan kefasikan.

➁ Pendapat yang mengharuskan – Mereka yang berpendapat demikian ialah:

☛ Abdullah bin Jaafar, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Umar, Muawiyah bin Abi Sufian, Amru bin Al-‘Aas, Hassan bin Thabit, Abdul Rahman bin Hassan dan Kharijah bin Zaid.

☛ Said bin Musayyab, Ata’ , Sya’bi, Az-Zuhri dan kebanyakan fuqaha’ Madinah.

☛ Ibnu Thahir menyatakan, “...ia adalah ijmak Ahli Madinah” (dakwaan ijmak ini ditentang sekeras-kerasnya oleh Ibnu Hajar Al-Haitami di dalam kitabnya Kaffur Ri’aa’.

☛ Sebahagian fuqaha’ Maliki, tetapi mereka menghadkan pengharusan tersebut untuk upacara perkahwinan sahaja.

☛ Al-Mawardi meriwayatkan keharusan penggunaan kecapi (Al-Aud) di sisi sebahagian ulamak Syafie.

☛ Ibnu Hazm, Abdul Ghani An-Nablusi, As-Syazili At-Tunisi dan Idfawi mengharuskannya dengan syarat-syarat berikut:

↘ Niat yang betul dan tidak bertentangan dengan syara’
↘ Tujuan yang tidak melanggar batas-batas syara’.


Dalil Mereka:

i. Perbuatan sebahagian sahabat mendengar petikan kecapi dan memiliki hamba-hamba wanita pemain kecapi, sebahagian diriwayatkan daripada Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Umar, Muawiyah bin Abi Sufian dan Amru bin Al-‘Aas.

ii. Ijmak Ahli Madinah sebagaimana yang ditegaskan oleh Ibnu Thahir Al-Maqdisi. Pendapat ini telah ditentang oleh Ibnu Hajar yang mendakwa ia adalah rekaan dan pendustaan Ibnu Tohir semata-mata.[xi]



★ Alat-alat Yang Ditiup[xii]

Para fuqaha’ di dalam perkara ini terbahagi kepada dua mazhab:

➀ Pendapat yang mengharamkannya – mereka yang berpendapat sedemikian ialah:

i. Ibnu Abbas dan Ibnu Umar.

ii. Mazhab Hanafi melainkan Nobat yang digunakan untuk tujuan memberi peringatan @ isyarat (tanbih)

iii. Mazhab Maliki, melainkan untuk upacara perkahwinan.

iv. Mazhab Syafie dan Hanbali

Dalil Mereka:

i. Firman Allah SWT di dalam surah Luqman ayat 6. Ibnu Abbas menafsirkan (lahwul hadith) dengan perkara-perkara yang melalaikan termasuklah alat muzik yang meliputi alat-alat yang ditiup.

ii. Hadith riwayat Nafie’ Maula Abdullah bin Umar[xiii]:
“Ibnu Umar terdengar suara serunai, lantas beliau meletakkan dua jarinya di kedua-dua lubang telinganya dan beredar daripada jalan yang dilaluinya. Beliau berkata kepadaku (Nafie’) : “wahai Nafie’, adakah engkau masih mendengar suara itu?” Aku menjawab, “tidak”. Lalu dia mengangkat kedua-dua jarinya daripada telinganya seraya berkata, “aku dahulu bersama Nabi SAW di suatu ketika, tiba-tiba Baginda terdengar suara seperti suara tadi, lantas Baginda melakukan sebagaimana yang telah aku lakukan.”

iii. Hadith riwayat Abu Umamah, sabda Nabi SAW[xiv]:
“... Sesungguhnya Allah telah mengutuskan aku sebagai rahmat ke seluruh alam dan memerintahkan aku menghapuskan seluruh alat-alat muzik dan serunai.”

iv. Hadith riwayat Aisyah RA bahawa Rasulullah SAW bersabda[xv]:
“Dua suara yang dilaknat Allah di dunia dan di akhirat, suara serunai ketika kesenangan dan raungan ketika musibah.”

v. Hadith riwayat Jabir RA, bahawa Nabi SAW bersabda[xvi]:
“Di hari kiamat kelak Allah SWT berkata: “Di manakah hamba-hambaKu yang telah membersihkan pendengaran dan penglihatan mereka daripada seruling-seruling syaitan, pisahkan mereka”. Lalu mereka dipisah dan dikumpulkan di dalam haruman kasturi dan anbar. Kemudian Allah SWT berkata kepada para malaikatNya: “Perdengarkan zikir yang mensuci dan mengagungkan Daku. Lalu mereka diperdengarkan suara yang tidak pernah didengari oleh sesiapa pun sebelum itu.” - Riwayat Ad-Dailami.

vi. Dalil Aqli :
Alat-alat tersebut adalah syiar golongan fasiq, maksiat dan peminum-peminum aral. Ia juga biasa menaikkan syahwat dan nafsu. Lantaran itu ia boleh melalaikan daripada mengingati Allah SWT.

➁ Pendapat yang mengharuskannya – mereka yang berpendapat demikian ialah:

i. Ibnu Kinanah daripada fuqaha’ mazhab Maliki yang mengharuskan serunai dan trompet (Al-Bauq) tetapi dengan syarat tidak berlebih-lebihan.

ii. Sebahagian ulamak Syafie mengharuskan penggunaan Al-Yara’ – sejenis seruling.

iii. Ibnu Thahir, Ibnu Hazm Al-Andalusi, Abdul Ghani An-Nablusi, Asy-Syazili At-Tunisi dan Al-Idfawi Asy-Syafie.

Dalil Mereka



i. Hadith yang diriwayatkan oleh Nafie’ Maula Abdullah bin Umar[xvii]: “Ibnu Umar terdengar suara serunai, lantas beliau meletakkan dua jarinya di kedua-dua lubang telinganya dan beredar daripada jalan yang dilaluinya. Beliau berkata kepadaku (Nafie’) : “wahai Nafie’, adakah engkau masih mendengar suara itu?” Aku menjawab, “tidak”. Lalu dia mengangkat kedua-dua jarinya daripada telinganya seraya berkata, “aku dahulu bersama Nabi SAW di suatu ketika, tiba-tiba Baginda terdengar suara seperti suara tadi, lantas Baginda melakukan sebagaimana yang telah aku lakukan.”

Hujah mereka, sekiranya mendengar suara serunai haram, sudah tentu Nabi SAW juga akan melarang Ibnu Umar mendengar suara tersebut. Begitu juga Ibnu Umar akan melarang Nafie’ mendengarnya dan melarang peniup serunai daripada terus meniup serunainya. Ini menunjukkan suara serunai tidak haram. Ada pun perbuatan Nabi SAW yang meletakkan kedua jarinya di telinga dan beredar daripada jalan yang dilalui adalah kerana sifat wara’ yang ada pada diri Baginda SAW.

Hujah mereka ini ditolak oleh ulamak-ulamak kumpulan pertama yang mengharamkannya berdasarkan kepada beberapa sebab: Antaranya ialah kerana terdapat perbezaan di antara As-Simaa’ (terdengar tanpa sengaja) dan Al-Istima’ ( mendengar dengan sengaja). As-Simaa’ sebagaimana yang berlaku di dalam hadith di atas tidak membawa kepada dosa kerana ia berlaku tanpa disengajakan.

ii. Dalil Aqli :
Alat-alat muzik diharamkan bukan kerana ainnya (zatnya) yang haram, malah hukum haram alat-alat tersebut ditentukan oleh niat dan tujuan ia dimainkan. Ini adalah berdasarkan kaedah Al-Umur bimaqasidiha iaitu sesuatu perkara itu adalah berdasarkan tujuannya (niat).

iii. Sebahagian ulamak Syafie yang mengharuskan penggunaan al-yara’ – sejenis serunai, menyatakan bahawa tiada dalil yang tsabit mengharamkan penggunaan alat tersebut.



♫ BERSAMA ABU HAMID AL-GHAZALI ♫

Al-Imam Hujjatul Islam, Abu Hamid Al-Ghazali telah membincangkan permasalahan hukum nyanyian dan muzik dengan panjang lebar dalam kitabnya Ihya’ Ulumiddin dalam juzuk yang kelapan bahagian Al-Adat. Al-Ghazali di dalam perbincangannya telah membahaskan hukum muzik dan alatnya daripada pelbagai sudut sebelum mengeluarkan pandangannya. Beliau tidak hanya berpegang dengan zahir nas malah cuba menggali di sebalik nas, sebab dan ‘illah diharamkan beberapa alat muzik sebagaimana yang disabdakan oleh junjungan besar Nabi SAW dalam hadith-hadith Baginda. Ini bertitik tolak daripada pegangan beliau bahawa nyanyian dan muzik adalah kelazatan-kelazatan dunia yang asalnya adalah halal dan harus. Sebab itulah beliau memasukkan perbincangan beliau tentang hukum hakam nyanyian dan muzik dalam bahagian adat (rub’ul adat). Adat-adat sebagaimana dimaklumi hukum asalnya adalah harus dan halal. (Al-Aslul fil Adat Al-Ibahah – asal di dalam adat adalah harus)

Al-Ghazali menyatakan bahawa irama boleh dihasilkan melalui alatan seumpama serunai, kecapi dan gendang atau melalui kerongkong haiwan atau manusia. Alatan muzik yang direka cipta pada asalnya adalah meniru makhluk-makhluk Allah SWT. Serunai yang direka adalah meniru suara yang dikeluarkan oleh kerongkong haiwan. Seandainya mendengar irama-irama merdu yang dikeluarkan oleh haiwan atau manusia diharuskan maka mendengar irama alat-alat muzik tiada beza hukumnya iaitu harus dan halal. Patut dikiaskan suara (irama) yang dihasilkan oleh alatan seumpama gendang, rebana, serunai dengan suara haiwan dan manusia kerana semuanya adalah suara atau bunyi.

Al-Ghazali menegaskan sebab pengharaman alatan yang dipetik dan ditiup (seperti serunai) sebagaimana yang disebut dalam hadith Nabi SAW bukan kerana alatan tersebut menimbulkan kelazatan kepada pendengar. Sekiranya demikian sudah tentulah diharamkan semua jenis suara atau irama yang membangkitkan kelazatan kepada pendengar. Kerongkong manusia, gendang, rebana kecil (duf) dan binatang-binatang seperti burung mempunyai potensi untuk menghasilkan irama-irama merdu yang mampu membangkitkan kelazatan di dalam sudut hati pendengar. Walau bagaimanapun Islam tidak mengharamkan suara-suara tersebut. Oleh itu Al-Ghazali menyatakan sebab pengharaman alatn yang disebut di dalam hadith-hadith Nabi SAW adalah kerana alatan-alatan tersebut biasa digunakan oleh ahli-ahli fasiq, maksiat dan peminum-peminum arak dan menjadi syiar mereka.
Al-Ghazali seterusnya menghuraikan sebab tersebut di dalam noktah-noktah di bawah:

➀ Irama alatan tersebut mengajak pendengar kepada arak kerana kelazatan iramanya disempurnakan dengan meminum arak. Hal ini ada persamaannya dengan pengharaman meminum sedikit arak walaupun ia tidak memabukkan kerana boleh membawa kepada meminum kadar arak yang boleh memabukkan.

➁ Kepada orang yang baru berjinak dengan arak, bunyi-bunyi alatan tersebut boleh mengingatkannya kepada majlis-majlis arak. Perlakuan “mengingat” ini boleh membawa kepada perlakuan meminum arak.

➂ Alat-alat tersebut adalah syiar ahli fasiq dan maksiat. Mereka menggunakan alatan tersebut untuk bersuka ria di dalam majlis-majlis mereka. Berdasarkan kepada sebab ini, digalakkan meninggalkan perkara-perkara sunnah yang menjadi syiar ahli bid’ah untuk mengelakkan menyerupai mereka. Pengharaman al-kubah adalah kerana ia biasa digunakan oleh lelaki-lelaki pondan. Sekiranya tidak sudah tentu tiada beza antaranya dengan gendang haji, gendang perang dan seumpamanya.

Begitulah pandangan Imam Al-Ghazali tentang hukum penggunaan alat-alat muzik. Beliau melihat di sana wujudnya sebab diharamkan alat-alat yang disebut pengharamannya melalui lisan Nabi SAW. Sekiranya hilang (gugur) sebab tersebut sudah tentulah gugur hukum pengharamannya. Bagi beliau semua perkara yang baik (At-Thayyibat) adalah halal melainkan perkara-perkara yang boleh membawa kepada kerosakan.

Firman Allah SWT:

..قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ

“Katakanlah wahai Muhammad, siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah yang telah dikeluarkan untuk hamba-hambaNya dan mengharamkan rezeki yang halal.”
[Al-A’raaf : 32]

Justeru itu suara dan irama yang dihasilkan melalui alat-alat muzik, tidak haram ain atau zatnya tetapi ia menjadi haram hukumnya disebabkan unsur-unsur luaran sebagaimana diterangkan di atas.



♫ PENDAPAT ULAMA' MASA KINI TENTANG MUZIK ♫

Ulamak-ulamak Islam masa kini tidak ketinggalan menyumbangkan pandangan-pandangan mereka terhadap hukum muzik yang menjadi titik perbezaan pendapat di kalangan ulamak sejak zaman berzaman. Mereka terbahagi kepada dua golongan, iaitu golongan yang mengharuskannya dan golongan yang mengharamkan. Mereka yang mengharamkan berpegang kepada nas-nas Al-Quran dan sunnah serta ‘illah yang disebut oleh ulamak-ulamak terdahulu. Cuma ada juga khilaf di kalangan mereka tentang alat-alat yang diharuskan. Ada juga yang menghadkannya kepada duf sahaja.
Mereka ini pula berikhtilaf lagi pada keadaan-keadaan dibenarkan memukul dufdan siapakah yang diharuskan menggunakannya.

➀ Pendapat pertama menyatakan bahawa duf hanya boleh digunakan di dalam upacara-upacara perkahwinan, hari raya, dan suasana-suasana kegembiraan yang lain seperti berkhatan. Hanya kaum perempuan sahaja yang dibenarkan memukul duf. Pendapat ini ialah pendapat Syeikh Abdul Aziz bin Baz, Syeikh Saleh Fauzan, Syeikh Muhammad bin Saleh Al-‘Usaimin dan Syeikh Nasiruddin Al-Albani. Mereka bersandarkan kepada mazhab Hanbali.[xviii]

➁ Pendapat kedua pula menyatakan duf boleh digunakan dalam semua keadaan dan boleh dipukul oleh kaum lelaki dan wanita.

Golongan yang lain pula ialah ulamak-ulamak masa kini yang mengharuskan penggunaan duf dan gendang sahaja bersandarkan kepada pendapat-pendapat ulamak terdahulu sebagaimana yang telah diterangkan di dalam helaian-helaian yang terdahulu.

Seterusnya ada ulamak-ulamak masa kini yang mengharuskan penggunaan seluruh alat muzik tanpa ada pengecualian tetapi mereka meletakkan syarat-syarat dan batas-batas penggunaan alat tersebut agar tidak bertentangan dengan hukum Allah SWT. Mereka yang berpendapat demikian antaranya ialah:

➀ Dr. Yusuf Al-Qardhawi di dalam kitabnya Malamih Al-Mujtama’ Al-Muslim.

➁ Dr. Abdul Karim Zaidan dalam bukunya Al-Mufassal fi Ahkam Al-Mar’ah wa Baitil Muslim juzuk 4 bab 8 iaitu Babul Lahwi wal La’ab.

➂ Dr. Mohammad Imarah di dalam bukunya Al-Islam wal Funun Al-Jamilah.

➃ Dr. Kaukab ‘Amir dalam bukunya As-Simaa’ ‘Inda As-Sufiyyah.

Pendapat mereka sama dengan pandangan beberapa ulamak terdahulu seperti Ibnu Hazm Al-Andalusi, Ibn Tahir Al-Qaisarani, Abdul Ghani An-Nablusi, Al-Kamal Jaafar Al-Idfawi Asy-Syafie dan Al-Imam Mohd. Asy-Syazili At-Tunisi.

Sebahagian daripada mereka seperti Al-Qardhawi berpendapat demikian kerana hadith-hadith yang mengharamkan alat-alat muzik pada pandangan beliau sama ada sahih ghair sarih (sahih tetapi tidak nyata) ataupun sarih ghair sahih (nyata tetapi tidak sahih). Nas-nas yang seumpama ini tidak mampu untuk memutuskan hukum kerana hukum mestilah diputuskan dengan nas yang sahih wa sarih (sahih dan nyata).[xix]

Sebahagian yang lain pula seperti Dr. Abdul Karim Zaidan dan Dr. Kaukab A’mempunyai pandangan yang sama dengan Al-Ghazali. Mereka menyatakan pengharaman alat-alat yang disebut di dalam nas-nas hadith adalah kerana ia merupakan syiar ahli fasiq dan maksiat. Pada pandangan mereka muzik tidak haram dari sudut irama atau bunyinya. Tetapi yang menjadikannya haram ialah unsur-unsur luaran yang lain iaitu ia adalah alatan yang biasa digunakan di dalam majlis-majlis dan tujuan-tujuan yang bertentangan dengan batas syara’. Justeru itu alat-alat tersebut tunduk kepada perubahan tempat dan masa. Penggunaan alat-alat ini juga mestilah berlegar dala lingkungan yang dibenarkan oleh syara’ iaitu:[xx]

➀ Niat penggunaan alat-alat tersebut dan pendengar iramanya hendaklah betul berdasarkan kaedah Al-umur Bimaqasidiha.

➁ Tujuan dan suasana digunakan alat-alat tersebut ialah tujuan dan suasana yang baik, mulia dan tidak bertentangan dengan batas-batas syara’.

Dr. Kaukab ‘Amir menyatakan:
“Pada hakikatnya majlis-majlis arak pada hari ini seperti kelab-kelab malam menggunakan seluruh alat muzik yang ada sekarang. Majlis-majlis tersebut tidak lagi menggunakan alat-alat tertentu (seperti zaman dahulu) malah keseluruhan alat digunakan. Oleh itu tidak mungkin untuk kita menghalalkan sebahagian alat (seperti duf dan gendang) dan mengharamkan sebahagian yang lain. Bahkan diharuskan kepada individu muslim mendengar irama alat-alat tersebut tetapi hendaklah menjaga adab-adab Islam serta tidak cuba meniru kelakuan dan perbuatan ahli-ahli fasiq dan maksiat.[xxi]


♫ KESIMPULAN DAN PENDAPAT YANG RAJIH (TERPILIH) ♫

Setelah meneliti perbahasan dan perbincangan para ulamak dan fuqaha’ dahulu dan masa kini, pendapat yang rajih pada pandangan penulis ialah:

【✔】 Alat-alat muzik tidak haram kerana ‘ainnya (zatnya) dan tidak halal kerana ‘ainnya. Tetapi di sana terdapat unsur-unsur luar yang menyebabkan sebahagian alat hukumnya haram sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi SAW di dalam hadith-hadith Baginda. Sebabnya ialah kerana alat-alat yang diharamkan tersebut adalah syiar peminum-peminum arak, lelaki pondan dan golongan fasiq dan maksiat. Yang dimaksudkan dengan syiar ialah alat-alat tersebut tidak digunakan melainkan oleh golongan tersebut sahaja dan digunakan di dalam majlis-majlis mereka sahaja sebagaimana halnya di zaman dahulu. Di zaman tersebut tiadanya media-media seperti televisyen, radio, video, kaset, wayang, satelit dan tiadanya bentuk-bentuk hiburan seperti pementasan, pentomin, drama... dan sebagainya. Di zaman tersebut juga, hiburan seperti nyanyian dan alat-alat muzik hanya boleh didapati di majlis-majlis golongan fasiq, lelaki pondan dan majlis-majlis arak.

【✔】 Irama-irama muzik dari sudut asalnya adalah sama dengan irama-irama yang boleh dikeluarkan oleh kerongkong manusia atau binatang seperti burung. Semuanya adalah bunyi. Cuma yang berbeza ialah suasana dan tujuan. Muzik biasanya digunakan untuk berhibur dan biasa digunakan dalam bentuk yang melanggar hukum dan batas-batas Allah SWT. Irama-irama yang dihasilkan oleh manusia juga haram hukumnya sekiranya digunakan pada tujuan, suasana dan keadaan yang merempuh sempadan syariat. Begitulah juga halnya dengan alat seumpama duf yang menjadi ittifaq ulamak keharusannya, sekiranya digunakan untuk tujuan-tujuan yang bertentangan dengan syara’, ia juga menjadi haram.

【✔】 Di zaman kini, penggunaan muzik begitu berleluasa. Muzik digunakan dalam media-media massa elektronik. Di TV, muzik digunakan untuk rancangan-rancangan yang berfaedah dan tidak berfaedah. Begitu juga dengan radio. Di sini kita dapati penggunaan muzik telah berubah daripada zaman dahulu. ‘Uruf dan adat telah bertukar sebagaimana kata Dr. Abdul Karim Zaidan di dalam kitabnya Al-Mufassal[xxii] . Oleh kerana perkembangan dunia seni yang begitu pesat, muzik kini tidak lagi menjadi syiar kepada majlis-majlis arak, ahli fasiq dan maksiat semata-mata. Misalnya apabila kita mendengar muzik di dalam rancangan berita atau muzik yang digunakan untuk pemindahan daripada satu rancangan kepada rancangan yang lain, adakah ia mengingatkan kita kepada majlis-majlis arak atau majlis-majlis ahli fasiq dan maksiat? Sudah tentu jawapannya tidak. Malah muzik di zaman kini berfungsi mengikut tujuan dan suasana ia digunakan.
Kerana itu penulis berpendapat penggunaan muzik di zaman kini adalah harus tetapi mestilah meraikan syarat-syarat berikut:

i. Niat pengguna dan pendengar hendaklah betul berdasarkan kaedah Al-Umur Bimaqasidiha iaitu sesuatu urusan adalah berdasarkan maksudnya

ii. Tujuan dan suasana penggunaan muzik tidak melanggar batas-batas Allah SWT. Iaitu mestilah digunakan pada tujuan-tujuan yang mulia.

iii. Mengelak daripada menyerupai golongan fasiq, maksiat dan kufur iaitu menjaga adab-adab Islam dalam penggunaan muzik. Tidak boleh menggunakan muzik-muzik tertentu yang hanya digunakan oleh golongan fasiq dan fasad seperti rentak rock dan yang seumpama dengannya. Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai sesuatu kaum, ia seperti tergolong dalam kaum tersebut”[xxiii]

【✔】Berdasarkan kepada syarat-syarat di atas, bidang-bidang seni Islam perlu mengelak daripada menggunakan muzik-muzik yang ada persamaan dengan muzik-muzik tidak senonoh yang digunakan oleh golongan fasiq dan maksiat seperti penyanyi-penyanyi pop sekarang. Nasyid-nasyid Islami seeloknya mengekalkan penggunaan alat-alat yang mengeluarkan bunyi / irama muzik yang tidak menyerupai irama yang digunakan oleh lagu-lagu pop agar wujud di sana garis pemisah di antara nasyid Islai dengan lagu-lagu yang bertentangan dengan syara’.

【✔】 Di dalam pembikinan filem Islam, drama, lakonan, pementasan dan seumpamanya yang amat meemrlukan kepada unsur muzik bagi menghidupkan adegan-adegan tertentu seperti adegan sedih, gembira, penderitaan, semangat dan sebagainya, muzik boleh digunakan tetapi hendaklah sekadar diperlukan sahaja. Muzik itu pula hendaklah muzik yang tidak melanggar adab-adab Islam dan tidak berlawanan dengan citarasa fitrah. Semua perkara ini diambil kira untuk mewujudkan perbezaan di antara seni Islam dengan seni jahiliah.

【✔】 Di zaman sains dan teknologi yang serba canggih, umat Islam menghadapi cabaran yang begitu kuat daripada media massa. Media mempamerkan segala-galnya tidak kira baik atau buruk, berfaedah atau tidak, membina atau merosakkan, dan... dan... TV, radio, kaset dan seumpamanya menyerang rumah-rumah umat Islam. Tidak mungkin lagi media-media tersebut dipisahkan daripada kehidupan masyarakat moden. Justeru itu tiada jalan lain pada pendokong-pendokong perjuangan Islam selain daripada mencari galang ganti kepada bentuk-bentuk seni yang bertentangan dengan Islam. Umat Islam mesti mengorak langkah di dalam bidang-bidang seni untuk memaparkan alternatif Islam kepada masyarakat. Filem-filem Islam, drama-drama Islam, dokumentari Islam, hiburan Islam seperti lagu-lagu dan nasyid Islam perlu menggantikan hiburan-hiburan dan siaran-siaran jahiliah yang teramat berleluasa sekarang ini.


PENUTUP

Di abad ini, Islam dicabar daripada berbagai-bagai sudut. Musuh menggunakan segala-galanya untuk menghancurkan Islam. Mereka mengetahui umat Islam mudah leka apabila diberikan kemewahan dan hiburan. Lantas mereka menggunakan tamadun kebendaan mereka dengan mengembangkan bidang seni bagi melalaikan umat dan terus menidurkan mereka. Natijahnya umat leka daripada sumber kekuatan mereka iaitu Al-Quran. Umat Islam di masa kini lebih gemar dan khusyuk mendengar lagu-lagu dendangan manusia daripada alunan bacaan atay-ayat suci Al-Quranul Karim.



░░░░░░░░░░░░░░░░░░BIBLIOGRAFI░░░░░░░░░░░
░░░░░░░

1. Al-Quran Al-Karim

2. Hukmul Ghina’ Wal Ma’azif fil Fiqhil Islami, Dr. Abdul Fattah Mahmud Idris 1994’

3. Kaffur Ri’aa ‘An Muharramatil Lahwi Was Simaa’ : Ibnu Hajar Al-Haitami, Tahqiq ‘Adil Mahmud Mun’ien ‘Abbas, Maktabah Al-Quran, Kaherah.

4. Ittihaf As-Sadah Al-Muttaqin bi Syarhi Ihya’ Ulumiddin, Al-Imam Az-Zabidi, Darul Kutub Al-Ilmiah, Beirut 1989.

5. Al-Mufassal fi Ahkam Al-Mar’ah Wa Bait Al-Muslim, Dr Abdul Karim Zaidan , Muassasah Ar-Risalah, 1994.

6. Al-Islam wal Funun Al-Jamilah : Dr. Muhammad ‘Imarah, Darul Syuruq 1991.

7. As-Simaa’ ‘Indas Sufiyyah : Dr. Kaukab ‘Amir, Syarikat Ikhwah Zuraiq 1988.

8. Al-Islam wa Qadhaya Al-Fann Al-Muasir : Yasin Muhammad Hasan, Darul Bab, 1990.

9. Malamih Al-Mujtama’ Al-Muslim : Dr. Yusuf Al-Qardhawi, Maktabah Wahbah 1993

10. Al-Bayan Al-Mufid ‘an Hukm Al-Tamsil Wal Anasyid, Abdulllah Abdul Rahman As-Sulaimani, Maktabah Tarbiyah Islamiah, 1990

11. Hasyiar Raddil Mukhtar : Ibnu ‘Abidin Al-Hanafi, Darul Kutub Al-Ilmiah, Beirut1994

12. Al-Hawi Al-Kabir, Al-Mawardi, Darul Fikir 1994.

13. Al-Mughni wa Asy-Syarhul Kabir, Ibnu Qudamah, Al-Maktabah At-Tijariah, 1994

14. Mughni Al-Muhtaj : Al-Khatib As-Syarbaini, Darul Fikir.

15. Al-Mawrid, Dr. Ruhi Al-Ba’albaki, Darul Ilmi Lil Malayin, 1994

16. Al-Mu’jam Al-Wasit, Dr. Ibrahim Anis dan rakan-rakan

17. Kamus Dwi Bahasa, Dewan Bahasa Dan Pustaka (DBP), 1991


[i] Para ulama’ seperti Imam Syafie dan Al-Ghazali berpendapat sesiapa yang melazimi mendengar nyanyian dan seumpamanya (walaupun diharuskan oleh syara’), dikira jatuh maruahnya dn tidak diterima penyaksiannya. Hukum ini berdasarkan uruf (situasi) di zaman mereka.

[ii] As-Simaa’ ‘Inda As-Sufiah oleh Dr. Kaukab ‘Amir, m/s 45

[iii] Al-Islam wa Qadhaya Al-Fann Al-Mu’asir oleh Yasin Mohd Hassan, m/s 166

[iv] Sila rujuk Hukmul Ghina’ wal Ma’azif fil Fiqhil Islami oleh Dr. Abdul Fattah Mahmud, Kaffur Ri’aa’ oleh Ibnu Hajar Al-Haitami.

[v] Rujuk perbahasan di dalam:
i. Hukmul Ghina’ wal Maazif oleh Dr. Abdul Fattah, ms. 193 – 219
ii. Kaffur-Ri’aa’ oleh Ibnu Hajar, ms 56 – 61
iii. Al-Islam wa Qadhaya Al-Fann Al-Muasir oleh Yasin Mohd Hasan, ms 217 – 219
iv. Al-Mughni oleh Ibnu Qudamah, juzuk 12 ms 40-42
v. Mughni Al-Muhtaj oleh Asy-Syarbini, juzuk 4 ms 429
vi. Al-Mufassal fi Ahkamil Mar’ah wal Baitil Muslim oleh Dr. Abdul Karim Zaidan, juzuk 4, ms 65 dan 71
vii. Hasyiatu Raddil Mukhtar juzuk 8 ms. 201
viii. Al-Hawi Al-Kabir oleh Al-Mawardi, juzuk 21, ms 207

[vi] Hadith Sahih, dikeluarkan oleh Ahmad di dalam musnadnya, Al-Hakim di dalam Mustadrak, dan berkata: “Ini adalah hadith sahih sanadnya tetapi tidak diletakkan oleh Bukhari dan Muslim di dalam sahih mereka.” Pendapat Al-Hakim ini disokong oleh Adz-Dzahabi di dalam kitabnya At-Takhlis. Dikeluarkan juga oleh Ibnu Majah, At-Tirmizi, Al-Baihaqi di dalam As-Sunan, Al-Baghawi di dalam Syarhus Sunnah, An-Nasa’ie, As Sayuti dan Al-Albani di dalam Sahih Al-Jami’As-Saghir – pentahqiq Kaffur Ri’aa’ ms 57.

[vii] Sanadnya hasan, dikeluarkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad, dan At-Tirmizi dalam bab Al-Manaqib dan menyatakan : “ hadith hasan sahih” – pentahqiq Kaffur Ri’aa’ ms 57

[viii] Rujuk perbahasan ini di dalam:
i. Hukmul Ghina’ wal Ma’azif, ms 232 – 244
ii. Kaffur Ri’aa’ ms 78
iii. Al-Islam wa Qadhaya Al-Fan Al-Mu’asir, ms 220-224
iv. Al-Mughni, juzuk 12 ms 40 – 42
v. Mughni Al-Muhtaj, juzuk 4, ms 429.
vi. Al-Mufassal, juzuk 4, ms 67, 71, 72.
vii. Hasyiah Raddil Mukhtar, juzuk 8 ms 201, 202
viii. Al-Hawi Al-Kabir, juzuk 21, ms 207.

[ix] Hadith Dhaif, dikeluarkan oleh Abu Daud At-Thoyalisi di dalam Musnad (5/155), hadith nombor 1134 dan Ahmad di dalam Musnad (5/268), dengan sanad yang sama dan lafaz yang hampir sama. –Pentahqiq Kaffur Ri’aa’ ms 20.

[x] Hadith ini disebut oleh Ibnu Jauzi di dalam Gharibul Hadith (2/89) dan Ibnul Athir di dalam GharibulHadith (3/216) – Pentahqiq Kaffur Ri’aa’ ms 62.

[xi] Ibnu Hajar Al-Haitami di dalam kitabnya Kaffur Ri’aa’ telah menyerang dua orang ulamak iaitu Ibnu Hazm Al-Andalusi dan Ibnu Thahir dengan kata-kata keras dan tuduhan-tuduhan yang melampau. Hal ini menunjukkan ketidakterbukaan Ibnu Hajar sebagai seorang ulamak. Ini adalah kerana suasana zaman beliau yang terlalu hangat dengan taasub mazhab. Ibnu Hajar bermazhab Syafie’ sementara Ibnu Hazm dan Ibnu Thahir pula bermazhab Zhahiri. Kitab beliau, Kaffur Ri’aa’ juga lebih mengumpulkan pendapat-pendapat fuqaha’ Syafie sahaja.

[xii] Rujuk perbahasan ini di dalam:
i. Hukmul Ghina’ wal Ma’azif , ms 245
ii. Kaffur Ri’aa’, ms 70
iii. Al-Islam wa Qhadaya Al-Fann Al-Mu’asir, ms 220, 224
iv. Al-Mughni , juzuk 12 ms 40 – 42
v. Mughni Al-Muhtaj, juzuk 4 ms 429
vi. Al-Mufassal, juzuk 4 ms 66, 67, 71 dan 72
vii. Hasyiah Raddil Mukhtar, juzuk 8 ms 201, 202
viii. Al-Hawi Al-Kabir, juzuk 21 ms 207

[xiii] Diriwayatkan oleh Ahmad di dalam Al-Musnad (2/38), Ibnu Hibban dalam As-Sahih (2/54), Al-Baihaqi di dalam As-Sunan Al-Kubra (10/222), Abu Daud dalam Sunannya (2/579), At-Tabrani di dalam Al-Mu’jam As-Saghir (1/13), Ibnu Majah di dalam As-Sunan (1/612) – Pentahqiq Kaffur Ri’aa’ ms. 73.

Hadith sahih sebagaimana dinayatakan oleh Al-Imam Abu Sulaiman Al-Khattabi, Ibnu Hibban dan Al-Hafiz Mohd. Bin Nasr As-Salami – Kaffur Ri’aa’ ms 74 dan Hukmul Ghina’ wal Ma’azif ms 248.

[xiv] Lihat tahqiqnya pada nota kaki no. 9.

[xv] Hadith Hasan. Ia disebut oleh As-Sayuti di dalam Al-Jami’ As-Saghir (2/48) dan menyandarkannya kepada Al-Bazzar dan Ad-Diya’ serta mengisyaratkannya sebagai hadith sahih. Al-Albani di dalam Al-Jami’ As-Sahih meletakkannya di dalam martabat hadith hasan (2/88). – Pentahqiq Kaffur Ri’aa’ ms 25.

[xvi] Hadith ini disebut oleh Al-Muttaqi Al-Hindi dalam Kanzul ‘Ummal dan Abu Nuaim di dalam Hulyatul Auliya’ – Pentahqiq Kaffur Ri’aa’ ms. 24

[xvii] Lihat nota kaki nombor 13.

[xviii] Lihat kitab Al-Bayanul Mufid fi Hukmil Tamsil wal Anasyid karangan Abdullah bin Abdul Rahman As-Sulaimani

[xix] Lihat Malamih Al-Mujmata’ Al-Muslim oleh Al-Qardhawi ms 285.

[xx] Lihat Al-Mufassal oleh Dr Abdul Karim Zaidan juzuk 4 ms 96

[xxi] Lihat As-Simaa’ ‘Inda As-Sufiyyah oleh Dr. Kaukab ‘Amir ms 251

[xxii] Lihat Al-Mufassal oleh Dr. Abdul Karim Zaidan juzuk 4 ms 95

[xxiii] Hadith sahih, diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunannya, Ahmad di dalam Musnad, As-Sayuti di dalam Al-Jamie’ As-Saghir, di mana menyandarkannya kepada At-Tabrani di dalam Al-Ausat dan meletakkannya di martabat hadith hasan. Hadith ini juga dikeluarkan oleh Al-Albani di dalam Sahih Al-Jamie’ – Pentahqiq Kaffur Ri’aa’ ms 47.
 

Pandangan ustaz Mohd Kazim Elias.
 
video
 
Pandangan ustaz kazim elias::
 
Lima perkara jadi haram:

1. Liriknya
2. Di iringi dengan Muzik yg menaikkan shahwat.
3. Ada pembaziran
4. Cara penyampaian ...penyanyi..
5. Bercampur lelaki n perempuan...yg bukan muhrim.
 
wallahualam bissawab..

Friday, November 12, 2010

kisah Ayah,Anak dan Burung Gagak



Pada suatu petang seorang tua bersama anak mudanya yang baru menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka.

Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pohon berhampiran. Si ayah lalu menunjuk ke arah gagak tersebut sambil bertanya, “Nak, apakah itu?”

Burung Gagak”, jawab si anak.

Si ayah mengangguk-angguk, namun sejurus kemudian sekali lagi mengulangi pertanyaan yang sama.

Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi lalu menjawab dengan sedikit kuat, “Itu Burung Gagak ayah!”

Tetapi sejurus kemudian si ayah bertanya lagi soal yang sama. Si anak merasa agak keliru dan sedikit bingung dengan persoalan yang sama diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih kuat, “BURUNG GAGAK!!

Si ayah terdiam seketika. Namun tidak lama kemudian sekali lagi sang ayah mengajukan pertanyaan yang serupa hingga membuat si anak hilang kesabaran dan menjawab dengan nada yang kesal kepada si ayah, “Gagak lah ayah…….!!

Agak mengejutkan si anak, karena si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanya soal yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar hilang sabar dan menjadi marah.

“Ayah!!! Saya tak tahu ayah paham atau tidak. Tapi sudah lima kali ayah bertanya hal tersebut dan saya juga sudah memberikan jawabannya. Apa lagi yang ayah mau dengar dari saya???? Itu burung Gagak, burung Ga Ga Gak ayah!” Kata si anak dengan nada yang begitu marah.

Si ayah terus bangun menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang kebingungan. Sesaat kemudian si ayah keluar lagi dengan sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih geram dan bertanya-tanya. Diperlihatkannya sebuah buku harian lama.

“Cuba kau baca apa yang pernah ayah tulis di dalam buku harian itu”, pinta si ayah. Si anak membaca paragraf yang berikut.”
“Hari ini aku sedang melamun di halaman, karena saat ini anakku genap berumur lima tahun. Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon berhampiran. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya, “Ayah, apa itu?” Dan aku menjawab, “burung gagak”
Walau bagaimana pun, anak ku terus bertanya soal yang serupa dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sehingga 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi cinta dan sayangku aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku berharap hal ini menjadi suatu pendidikan yang berharga.”
Setelah selesai membaca paragraf tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si ayah yang kelihatan sayu.

Si ayah dengan perlahan bersuara, “Hari ini ayah baru bertanya kepadamu soal yang sama sebanyak lima kali, dan kau telah hilang sabar serta marah.

Jagalah hati kedua orang tuamu, hormatilah mereka. Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangimu di waktu kecil.


Nilai Kasih Ibu




Ini adalah mengenai Nilai kasih Ibu 

Seorang anak yang mendapatkan ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur. Kemudian dia menghulurkan sekeping kertas yang bertulis sesuatu. 

si ibu segera membersihkan tangan dan lalu menerima kertas yang dihulurkan oleh si anak dan membacanya. 

kos upah membantu ibu:

1) Tolong Pergi Ke kedai-RM 4.00
2) Tolong jaga adik -RM 4.00
3) Tolong buang sampah -RM1.00
4) Tolong kemas Bilik -RM2.00
5) Tolong siram bunga -RM3.00
6) Tolong sapu rumah -RM3.00
Jumlah : RM17.00 

Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak yang raut mukanya berbinar-binar. Si ibu mencapai sebatang pen dan menulis sesuatu dibelakang kertas yang sama. 

1) Kos mengandungmu selama 9 bulan – PERCUMA
2) Kos berjaga malam karena menjagamu – PERCUMA
3) Kos air mata yang menitis karenamu – PERCUMA
4) Kos Kerunsingan kerana selalu bimbang keadaanmu – PERCUMA
5) Kos menyediakan makan minum, pakaian dan keperluanmu – PERCUMA
Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku : PERCUMA 

Air mata si anak berlinang setelah membaca. Si anak menatap wajah ibu, memeluknya dan berkata, “Saya Sayang Ibu”..

Kemudian si anak mengambil pen dan menulis “Telah Dibayar” ..didepan surat yang ditulis olehnya..

Thursday, November 11, 2010

Jubah buat ibu



“Apa nak jadi dengan kau ni Along? Bergaduh! Bergaduh! Bergaduh! Kenapa kau degil sangat ni? Tak boleh ke kau buat sesuatu yang baik, yang tak menyusahkan aku?”, marah ibu. Along hanya membungkam. Tidak menjawab sepatah apapun. “Kau tu dah besar Along. Masuk kali ni dah  dua kali kau ulang ambil SPM, tapi kau asyik buat hal di sekolah. Cuba la kau ikut macam Angah dengan Alang tu. Kenapa kau susah sangat nak dengar nasihat orang hah?”, leter ibu lagi.

Suaranya kali ini sedikit sebak bercampur marah. Along terus membatukan diri. Tiada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Seketika dia melihat si ibu berlalu pergi dan kembali semula dengan rotan di tangannya. Kali ini darah Along mula menderau. Dia berdoa dalam hati agar ibu tidak memukulnya lagi seperti selalu. “Sekarang kau cakap, kenapa kau bergaduh tadi? Kenapa kau pukul anak pengetua tu? Cakap Along, cakap!” Jerkah ibu. Along semakin berdebar-debar namun dia tidak dapat berkata-kata. Suaranya bagai tersekat di kerongkong. Malah, dia juga tidak tahu bagaimana hendak menceritakan hal sebenar. Si ibu semakin bengang. “ Jadi betul la kau yang mulakan pergaduhan ye!? Nanti kau, suka sangat cari penyakitkan, sekarang nah, rasakan!” Si ibu merotan Along berkali-kali dan berkali-kali jugaklah Along menjerit kesakitan.

“Sakit bu…sakit….maafkan Along bu, Along janji tak buat lagi….Bu, jangan pukul bu…sakit bu…” Along meraung meminta belas si ibu agar tidak merotannya lagi. “Tau sakit ye, kau bergaduh kat sekolah tak rasa sakit?” Balas ibu lagi. Kali ini semakin kuat pukulan si ibu menyirat tubuh Along yang kurus itu. “Bu…ampunkan Along bu…bukan Along yang mulakan…bukan Along….bu, sakit bu..!!”, rayu Along dengan suara yang tersekat-sekat menahan pedih. Along memaut kaki si ibu. Berkali-kali dia memohon maaf daripada ibunya namun siratan rotan tetap mengenai tubuhnya. Along hanya mampu berdoa. Dia tidak berdaya lagi menahan tangisnya. Tangis bukan kerana sakitnya dirotan, tapi kerana memikirkan tidak jemukah si ibu merotannya setiap hari. Setelah hatinya puas, si ibu mula berhenti merotan Along. Tangan Along yang masih memaut kakinya itu di tepis kasar. Along menatap mata ibu. Ada manik-manik kaca yang bersinar di kelopak mata si ibu. Along memandang dengan sayu. Hatinya sedih kerana telah membuatkan ibunya menangis lagi kerananya.

Malam itu, Along berjaga sepanjang malam. Entah mengapa matanya tidak dapat dilelapkan. Dia asyik teringatkan peristiwa dirotan ibu petang tadi. Begitulah yang berlaku apabila ibu marahkannya. Tapi kali ini marah ibu sangat memuncak. Mungkin kerana dia menumbuk anak pengetua sewaktu di sekolah tadi menyebabkan pengetua hilang sabar dan memanggil ibunya ke sekolah untuk membuat aduan kesekian kalinya. Sewaktu di bilik pengetua, Along sempat menjeling ibu di sebelah. Namun, dia tidak diberi kesempatan untuk bersuara. Malah, semua kesalahan itu di dilemparkan kepadanya seorang. Si Malik anak pengetua itu bebas seolah-olah sedikit pun tidak bersalah dalam hal ini. Along mengesat sisa-sisa air mata yang masih bertakung di kelopak matanya. Dia berlalu ke meja tulis mencapai minyak sapu lalu disapukan pada bekas luka yang berbirat di tubuhnya dek rotanan ibu tadi. Perlahan-lahan dia menyapu ubat namun masih tetap terasa pedihnya. Walaupun sudah biasa dirotan, namun tidak seteruk kali ini. Along merebahkan badannya. Dia cuba memejamkan mata namun masih tidak mahu lelap. Seketika wajah ibu menjelma diruang ingatannya. Wajah ibu suatu ketika dahulu sangat mendamaikan pada pandangan matanya. Tetapi, sejak dia gagal dalam SPM, kedamaian itu semakin pudar dan hanya kelihatan biasa dan kebencian di wajah tua itu. Apa yang dibuat serba tidak kena pada mata ibu. Along sedar, dia telah mengecewakan hati ibu dahulu kerana mendapat keputusan yang corot dalam SPM. Tetapi Along tidak pernah ambil hati dengan sikap ibu walau adakalanya kata-kata orang tua itu menyakiti hatinya. Along sayang pada ibu. Dialah satu-satunya ibu yang Along ada walaupun kasih ibu tidak semekar dahulu lagi. Along mahu meminta maaf. Dia tidak mahu menjadi anak derhaka. Fikirannya terlalu cacamarba, dan perasaannya pula semakin resah gelisah. Akhirnya, dalam kelelahan melayani perasaan, Along terlelap juga.

Seminggu selepas peristiwa itu, si ibu masih tidak mahu bercakap dengannya. Jika ditanya, hanya sepatah dijawab ibu. Itupun acuh tidak acuh sahaja. Pulang dari sekolah, Along terus menuju ke dapur. Dia mencangak mencari ibu kalau-kalau orang kesayangannya itu ada di situ. Along tersenyum memandang ibu yang terbongkok-bongkok mengambil sudu di bawah para dan kemudian mencacap makanan yang sedang dimasak itu. Dia nekad mahu menolong. Mudah-mudahan usahanya kali ini berjaya mengambil hati ibu. Namun, belum sempat dia melangkah ke dapur, adik perempuannya yang baru pulang daripada mengaji terus meluru ke arah ibu. Along terperanjat dan cuba berselindung di sebalik pintu sambil memerhatikan mereka.

“ Ibu..ibu masak apa ni? Banyaknya lauk, ibu nak buat kenduri ye!?” Tanya Atih kehairanan. Dia tidak pernah melihat ibunya memasak makanan yang pelbagai jenis seperti itu. Semuanya enak-enak belaka. Si ibu yang lincah menghiris sayur hanya tersenyum melihat keletah anak bongsunya itu. Sementara Along disebalik pintu terus memerhatikan mereka sambil memasang telinganya. “Ibu, Atih nak rasa ayam ni satu boleh?” “ Eh jangan, nanti dulu. Ibu tau Atih lapar, tapi tunggulah Kak Ngah dengan Alang balik dulu. Nanti kita makan sekali. Pergi naik atas mandi dan tukar baju dulu ye!”, si ibu bersuara lembut. Along menarik nafas panjang dan melepaskannya perlahan. ‘anak-anak kesayangan ibu nak balik rupanya…’ bisik hati kecil Along. “Kak Ngah dengan Alang nak balik ke ibu?”, soalnya lagi masih belum berganjak dari dapur. Si ibu mengangguk sambil tersenyum. Di wajahnya jelas menampakkan kebahagiaan. “Oooo patutlah ibu masak lauk banyak-banyak. Mmm bu, tapi Atih pelik la. Kenapa bila Along balik, ibu tak masak macam ni pun?”. Along terkejut mendengar soalan Atih. Namun dia ingin sekali tahu apa jawapan dari ibunya. “Along kan hari-hari balik rumah? Kak Ngah dengan Alang lain, diorang kan duduk asrama, balik pun sebulan sekali ja!”, terang si ibu. “Tapi, ibu tak penah masak lauk macam ni dekat Along pun..”, soal Atih lagi. Dahinya sedikit berkerut dek kehairanan. Along mula terasa sebak. Dia mengakui kebenaran kata-kata adiknya itu namun dia tidak mahu ada perasaan dendam atau marah walau secalit pun pada ibu yang sangat disayanginya. “Dah tu, pergi mandi cepat. Kejap lagi kita pergi ambil Kak Ngah dengan Alang dekat stesen bas.” , arah ibu. Dia tidak mahu Atih mengganggu kerja-kerjanya di dapur dengan menyoal yang bukan-bukan. Malah ibu juga tidak senang jika Atih terus bercakap tentang Along. Pada ibu, Along anak yang derhaka yang selalu menyakiti hatinya. Apa yang dikata tidak pernah didengarnya. Selalu pula membuat hal di sekolah mahupun di rumah. Disebabkan itulah ibu semakin hilang perhatian pada Along dek kerana marah dan kecewanya.

Selepas ibu dan Atih keluar, Along juga turut keluar. Dia menuju ke Pusat Bandar sambil jalan-jalan buat menghilangkan tekanannya. Tiba di satu kedai, kakinya tiba-tiba berhenti melangkah. Matanya terpaku pada sepasang jubah putih berbunga ungu yang di lengkapi dengan tudung bermanik. ‘Cantiknya, kalau ibu pakai mesti lawa ni….’ Dia bermonolog sendiri. Along melangkah masuk ke dalam kedai itu. Sedang dia membelek-belek jubah itu, bahunya tiba-tiba disentuh seseorang. Dia segera menoleh. Rupa-rupanya itu Fariz, sahabatnya. “La…kau ke, apa kau buat kat sini?”, tanya Along ingin tahu sambil bersalaman dengan Fariz. “Aku tolong jaga butik kakak aku. Kau pulak buat apa kat sini?”, soalnya pula. “Aku tak de buat apa-apa, cuma nak tengok-tengok baju ni. Aku ingat nak kasi mak aku!”, jelas Along jujur. “waa…bagus la kau ni Azam. Kalau kau nak beli aku bagi less 50%. Macammana?” Terlopong mulut Along mendengar tawaran Fariz itu. “Betul ke ni Riz? Nanti marah kakak kau!”, Along meminta kepastian. “Untuk kawan baik aku, kakak aku mesti bagi punya!”, balas Fariz meyakinkannya. “Tapi aku kena beli minggu depan la. Aku tak cukup duit sekarang ni.” Cerita Along agak keseganan. Fariz hanya menepuk mahunya sambil tersenyum. “Kau ambik dulu, lepas tu kau bayar sikit-sikit.” Kata Fariz . Along hanya menggelengkan kepala tanda tidak setuju. Dia tidak mahu berhutang begitu. Jika ibunya tahu, mesti dia dimarahi silap-silap dipukul lagi. “Dekat kau ada berapa ringgit sekarang ni?”, soal Fariz yang benar-benar ingin membantu sahabatnya itu. Along menyeluk saku seluarnya dan mengeluarkan dompet berwarna hitam yang semakin lusuh itu. “Tak sampai sepuluh ringgit pun Riz, tak pe lah, aku datang beli minggu depan. Kau jangan jual dulu baju ni tau!”, pesan Along bersungguh-sungguh. Fariz hanya mengangguk senyum.
Hari semakin lewat. Jarum pendek sudah melangkaui nombor tujuh. Setelah tiba, kelihatan Angah dan Alang sudah berada di dalam rumah. Mereka sedang rancak berbual dengan ibu di ruang tamu. Dia menoleh ke arah mereka seketika kemudian menuju ke dapur. Perutnya terasa lapar sekali kerana sejak pulang dari sekolah petang tadi dia belum makan lagi. Penutup makanan diselak. Syukur masih ada sisa lauk-pauk yang ibu masak tadi bersama sepinggan nasi di atas meja. Tanpa berlengah dia terus makan sambil ditemani Si Tomei, kucing kesayangan arwah ayahnya. “Baru nak balik waktu ni? Buat hal apa lagi kat luar tu?”, soalan ibu yang bernada sindir itu tiba-tiba membantutkannya daripada menghabiskan sisa makanan di dalam pinggan. “Kenapa tak makan kat luar ja? Tau pulak, bila lapar nak balik rumah!”, leter ibu lagi. Along hanya diam. Dia terus berusaha mengukir senyum dan membuat muka selamber seperti tidak ada apa-apa yang berlaku. Tiba-tiba Angah dan Alang menghampirinya di meja makan. Mereka berdiri di sisi ibu yang masih memandang ke arahnya seperti tidak berpuas hati. “Along ni teruk tau. Suka buat ibu susah hati. Kerana Along, ibu kena marah dengan pengetua tu.” Marah Angah, adik perempuannya yang sedang belajar di MRSM. Along mendiamkan diri. Diikutkan hati, mahu saja dia menjawab kata-kata adiknya itu tetapi melihat kelibat ibu yang masih di situ, dia mengambil jalan untuk membisu sahaja. “Along! Kalau tak suka belajar, berhenti je la. Buat je kerja lain yang berfaedah daripada menghabiskan duit ibu", sampuk Alang, adik lelakinya yang menuntut di sekolah berasrama penuh. Kali ini kesabarannya benar-benar tercabar. Hatinya semakin terluka melihat sikap mereka semua. Dia tahu, pasti ibu mengadu pada mereka. Along mengangkat mukanya memandang wajah ibu. Wajah tua si ibu masam mencuka. Along tidak tahan lagi. Dia segera mencuci tangan dan meluru ke biliknya.

Perasaannya jadi kacau. Fikirannya bercelaru. Hatinya pula jadi tidak keruan memikirkan kata-kata mereka. Along sedar, kalau dia menjawab, pasti ibu akan semakin membencinya. Along nekad, esok pagi-pagi, dia akan tinggalkan rumah. Dia akan mencari kerja di Bandar. Kebetulan cuti sekolah selama seminggu bermula esok. Seperti yang dinekadkan, pagi itu selesai solat subuh, Along terus bersiap-siap dengan membawa beg sekolah berisi pakaian, Along keluar daripada rumah tanpa ucapan selamat. Dia sekadar menyelitkan nota buat si ibu menyatakan bahawa dia mengikuti program sekolah berkhemah di hutan selama seminggu. Niatnya sekadar mahu mencari ketenangan selama beberapa hari justeru dia terpaksa berbohong agar ibu tidak bimbang dengan tindakannya itu. Along menunggang motorsikalnya terus ke Pusat Bandar untuk mencari pekerjaan. Nasib menyebelahinya, tengah hari itu, dia diterima bekerja dengan Abang Joe sebagai pembantu di bengkel membaiki motorsikal dengan upah lima belas ringgit sehari, dia sudah rasa bersyukur dan gembira. Gembira kerana tidak lama lagi, dia dapat membeli jubah untuk ibu. Hari ini hari ke empat Along keluar daripada rumah. Si ibu sedikit gelisah memikirkan apa yang dilakukan Along di luar. Dia juga berasa agak rindu dengan Along. Entah mengapa hati keibuannya agak tersentuh setiap kali terpandang bilik Along. Tetapi kerinduan dan kerisauan itu terubat apabila melihat gurau senda anak-anaknya yang lain.

Seperti selalu, Along bekerja keras membantu Abang Joe di bengkelnya. Sikap Abang Joe yang baik dan kelakar itu sedikit sebanyak mengubat hatinya yang luka. Abang Joe baik. Dia banyak membantu Along antaranya menumpangkan Along di rumahnya dengan percuma. “Azam, kalau aku tanya kau jangan marah k!”, soal Abang Joe tiba-tiba sewaktu mereka menikmati nasi bungkus tengah hari itu. “Macam serius jer bunyinya Abang Joe?” Along kehairanan. “Sebenarnya, kau lari dari rumah kan?” Along tersedak mendengar soalan itu. Nasi yang disuap ke dalam mulut tersembur keluar. Matanya juga kemerah-merahan menahan sedakan. Melihat keadaan Along itu, Abang Joe segera menghulurkan air. “Kenapa lari dari rumah? Bergaduh dengan parents?” Tanya Abang Joe lagi cuba menduga. Soalan Abang Joe itu benar-benar membuatkan hati Along sebak. Along mendiamkan diri. Dia terus menyuap nasi ke dalam mulut dan mengunyah perlahan. Dia cuba menundukkan mukanya cuba menahan perasaan sedih. “Azam, kau ada cita-cita tak…ataupun impian ker…?” Abang Joe mengubah topik setelah melihat reaksi Along yang kurang selesa dengan soalannya tadi. “Ada” jawab Along pendek “Kau nak jadi apa besar nanti? Jurutera? Doktor? Cikgu? Pemain bola? Mekanik macam aku…atau….” Along menggeleng-gelengkan kepala. “semua tak…Cuma satu je, saya nak mati dalam pangkuan ibu saya.” Jawab Along disusuli ketawanya. Abang Joe melemparkan tulang ayam ke arah Along yang tidak serius menjawab soalannya itu. “Ala, gurau ja la Abang Joe. Sebenarnya….saya nak bawa ibu saya ke Mekah dan…saya….saya nak jadi anak yang soleh!”. Perlahan sahaja suaranya namun masih jelas didengari telinga Abang Joe. Abang Joe tersenyum mendengar jawapannya. Dia bersyukur di dalam hati kerana mengenali seorang anak yang begitu baik. Dia sendiri sudah bertahun-tahun membuka bengkel itu namun belum pernah ada cita-cita mahu menghantar ibu ke Mekah.

Setelah tamat waktu rehat, mereka menyambung kerja masing-masing. Tidak seperti selalu, petang itu Along kelihatan banyak berfikir. Mungkin terkesan dengan soalan Abang Joe sewaktu makan tadi. “Abang Joe, hari ni, saya nak balik rumah ...terima kasih banyak kerana jaga saya beberapa hari ni”, ucap Along sewaktu selesai menutup pintu bengkel. Abang Joe yang sedang mencuci tangannya hanya mengangguk. Hatinya gembira kerana akhirnya anak muda itu mahu pulang ke pangkuan keluarga. Sebelum berlalu, Along memeluk lelaki bertubuh sasa itu. Ini menyebabkan Abang Joe terasa agak sebak. “Abang Joe, jaga diri baik-baik. Barang-barang yang saya tinggal kat rumah Abang Joe tu, saya hadiahkan untuk Abang Joe.” Kata Along lagi. “Tapi, kau kan boleh datang bila-bila yang kau suka ke rumah aku!?”, soal Abang Joe. Dia risau kalau-kalau Along menyalah anggap tentang soalannya tadi. Along hanya senyum memandangnya. “Tak apa, saya bagi kat Abang Joe. Abang Joe, terima kasih banyak ye! Saya rasa tak mampu nak balas budi baik abang. Tapi, saya doakan perniagaan abang ni semakin maju.” Balasnya dengan tenang. Sekali lagi Abang Joe memeluknya bagai seorang abang memeluk adiknya yang akan pergi jauh. 

Berbekalkan upahnya, Along segera menuju ke butik kakak Fariz untuk membeli jubah yang diidamkannya itu. Setibanya di sana, tanpa berlengah dia terus ke tempat di mana baju itu disangkut. “ Hey Azam, mana kau pergi? Hari tu mak kau ada tanya aku pasal kau. Kau lari dari rumah ke?”, soal Fariz setelah menyedari kedatangan sahabatnya itu. Along hanya tersengeh menampakkan giginya. “Zam, mak kau marah kau lagi ke? Kenapa kau tak bagitau hal sebenar pasal kes kau tumbuk si Malik tu?” “Tak pe lah, perkara dah berlalu….lagipun, aku tak nak ibu aku terasa hati kalau dia dengar tentang perkara ni", terang Along dengan tenang. “Kau jadi mangsa. Tengok, kalau kau tak bagitau, mak kau ingat kau yang salah", kata Fariz lagi. “Tak apa lah Riz, aku tak nak ibu aku sedih. Lagipun aku tak kisah.” “Zam..kau ni…..” “Aku ok, lagipun aku sayang dekat ibu aku. Aku tak nak dia sedih dan ingat kisah lama tu.” Jelas Along memotong kata-kata si sahabat yang masih tidak berpuas hati itu. “Aku nak beli jubah ni Riz. Kau tolong balutkan ek, jangan lupa lekat kad ni sekali, k!”, pinta Along sambil menyerahkan sekeping kad berwarna merah jambu. “No problem…tapi, mana kau dapat duit? Kau kerja ke?” , soal Fariz ingin tahu. “Aku kerja kat bengkel Abang Joe. Jadi pembantu dia", terang Along. “Abang Joe mana ni?” “Yang buka bengkel motor kat Jalan Selasih sebelah kedai makan pakcik kantin kita tu!”, jelas Along dengan panjang lebar. Fariz mengangguk . “Azam, kau nak bagi hadiah ni kat mak kau bila?” “Hari ni la…” balas Along. “Ooo hari lahir ibu kau hari ni ek?” “Bukan, minggu depan…” “Habis?. Kenapa kau tak tunggu minggu depan je?”, soal Fariz lagi. “Aku rasa hari ni je yang yang sempat untuk aku bagi hadiah ni. Lagipun, aku harap lepas ni ibu aku tak marah aku lagi.” Jawabnya sambil mengukir senyum.

Along keluar daripada kedai. Kelihatan hujan mulai turun. Namun Along tidak sabar menunggu untuk segera menyerahkan hadiah itu untuk ibu. Sambil menunggang, Along membayangkan wajah ibu yang sedang tersenyum menerima hadiahnya itu. Motosikalnya sudah membelok ke Jalan Nuri II. Tiba di simpang hadapan lorong masuk ke rumahnya, sebuah kereta wira yang cuba mengelak daripada melanggar seekor kucing hilang kawalan dan terus merempuh Along dari depan yang tidak sempat mengelak. Akibat perlanggaran yang kuat itu, Along terpelanting ke tengah jalan dan mengalami hentakan yang kuat di kepala dan belakangnya. Topi keledar yang dipakai mengalami retakan dan tercabut daripada kepalanya, Along membuka matanya perlahan-lahan dan terus mencari hadiah untuk si ibu dan dengan sisa kudrat yang ada, dia cuba mencapai hadiah yang tercampak berhampirannya itu. Dia menggenggam kuat cebisan kain dan kad yang terburai dari kotak itu. Darah semakin membuak-buak keluar dari hidungnya. Kepalanya juga terasa sangat berat, pandangannya berpinar-pinar dan nafasnya semakin tersekat-sekat. Dalam keparahan itu, Along melihat kelibat orang–orang yang sangat dikenalinya sedang berlari ke arahnya. Serta merta tubuhnya terus dirangkul seorang wanita. Dia tahu, wanita itu adalah ibunya. Terasa bahagia sekali apabila dahinya dikucup saat itu. Along gembira. Itu kucupan daripada ibunya. Dia juga dapat mendengar suara Angah, Alang dan Atih memanggil-manggil namanya. Namun tiada suara yang keluar dari kerongkongnya saat itu. Along semakin lemah. Namun, dia kuatkan semangat dan cuba menghulurkan jubah dan kad yang masih digenggamannya itu. “Ha..hadiah….untuk….ibu………” ucapnya sambil berusaha mengukir senyuman. Senyuman terakhir buat ibu yang sangat dicintainya. Si ibu begitu sebak dan sedih. Si anak dipeluknya sambil dicium berkali-kali. Air matanya merembes keluar bagai tidak dapat ditahan lagi. Pandangan Along semakin kelam. Sebelum matanya tertutup rapat, terasa ada air hangat yang menitik ke wajahnya. Akhirnya, Along terkulai dalam pangkuan ibu dan dia pergi untuk selama-lamanya.

Selesai upacara pengebumian, si ibu terus duduk di sisi kubur Along bersama Angah, Alang dan Atih. Dengan lemah, wanita itu mengeluarkan bungkusan yang hampir relai dari beg tangannya. Sekeping kad berwarna merah jambu bertompok darah yang kering dibukanya lalu dibaca. ‘Buat ibu yang sangat dikasihi, ampunkanlah salah silap along selama ini. Andai along melukakan hati ibu, along pinta sejuta kemaafan. Terimalah maaf along bu..Along janji tak kan membuatkan ibu marah lagi. Ibu, Along sayang ibu selama-lamanya. Selamat hari lahir ibu… dan terimalah hadiah ini…..UNTUKMU IBU!’ Kad itu dilipat dan dicium. Air mata yang bermanik mula berjurai membasahi pipi. Begitu juga perasaan yang dirasai Angah, Alang dan Atih. Masing-masing berasa pilu dan sedih dengan pemergian seorang abang yang selama ini disisihkan. Sedang melayani perasaan masing-masing, Fariz tiba-tiba muncul. Dia terus mendekati wanita tua itu lalu mencurahkan segala apa yang dipendamnya selama ini. “Makcik, ampunkan segala kesalahan Azam. Azam tak bersalah langsung dalam kes pergaduhan tu makcik. Sebenarnya, waktu Azam dan saya sibuk menyiapkan lukisan, Malik datang dekat kami. Dia sengaja cari pasal dengan Azam dengan menumpahkan warna air dekat lukisan Azam. Lepas tu, dia ejek-ejek Azam. Dia cakap Azam anak pembunuh. Bapa Azam seorang pembunuh dan … dia jugak cakap, ibunya seorang perempuan gila…” cerita Fariz dengan nada sebak. Si ibu terkejut mendengarnya. Terbayang di ruang matanya pada ketika dia merotan Along kerana kesalahan menumbuk Malik. “Tapi, kenapa arwah tidak ceritakan pada makcik Fariz?” Soalnya dengan sedu sedan. “Sebab…..dia tak mahu makcik sedih dan teringat kembali peristiwa dulu. Dia cakap, dia tak nak makcik jatuh sakit lagi, dia tak nak mengambil semua ketenangan yang makcik ada sekarang…walaupun dia disalahkan, dia terima. Tapi dia tak sanggup tengok makcik dimasukkan ke hospital sakit jiwa semula....” Terang Fariz lagi. Dia berasa puas kerana dapat menyatakan kebenaran bagi pihak sahabatnya itu.

Si ibu terdiam mendengar penjelasan Fariz. Terasa seluruh anggota badannya menjadi Lemah. Berbagai perasaan mencengkam hatinya. Sungguh hatinya terasa sangat pilu dan terharu dengan pengorbanan si anak yang selama ini dianggap derhaka.