Saturday, September 4, 2010

indahnya pahala menahan marah


Ada seorang pemuda yang sangat pemarah. Dia tidak dapat mengawal kemarahannya walaupun ianya hanya masalah kecil sahaja. Pada suatu hari, bapanya telah menghadiahkannya dengan seguni paku. ‘Untuk apakah paku2 ni ayah ?’ tanya pemuda tersebut. ‘Setiap kali kamu marah, kamu pakulah tembok batu dihadapan rumah kita ini bagi melepaskan kemarahanmu’ jawab ayahnya.

Pada hari yang pertama sahaja, pemuda itu telah memaku sebanyak 37 batang paku pada tembok batu tersebut. Selepas beberapa minggu, setelah dia dapat mengurangkan kemarahannya, jumlah paku yang digunakakan juga berkurangan. Dia mendapati adalah lebih mudah mengawal kemarahannya daripada memukul paku pada tembok batu tersebut. Akhirnya tibalah pada suatu hari, dimana pemuda tersebut tidak marah walaupun sekali.

Dia pun memberitahu ayahnya mengenai perkara tersebut dengan gembira. Bapanya mengucapkan tahniah dan menyuruh dia mencabut kembali paku setiap hari yang ia lalui tanpa kemarahan. Hari berganti hari dan akhirnya ia berjaya mencabut kesemua paku2 tersebut. Pemuda tersebut lantas memberitahu perkara tersebut kepada ayahnya dengan bangganya.

Bapanya lantas memimpin tangannya ke tembok tersebut dan berkata ‘kamu telah melakukannya dengan baik,anakku tetapi lihatlah kesan lubang2 di tembok batu tersebut.

TEMBOK ITU TIDAK AKAN KEMBALI SEPERTI SEBELUMNYA. BILA KAMU MELAKUKAN SESUATU ATAU MENYATAKAN SESUATU KETIKA MARAH, IANYA AKAN MENINGGALKAN KESAN PARUT DAN LUKA, SAMA SEPERTI INI. KAMU BOLEH MENIKAM SESEORANG DENGAN PISAU DAN MEMBUNUHNYA.

Tetapi ingatlah beberapa kali kamu memohon maaf dan menyesal atas perbuatanmu, namun lukanya masih tetap ada. Luka dihati lebih pedih dari luka fizikal. Sahabat adalah permata yang sukar dicari. Sahabat yang sejati akan membawa kamu ke arah kegembiraan dan kejayaan. Sahabat juga adalah seorang pendengar, berkongsi suka dan duka dan sentiasa membuka hatinya kepada kita.’

Maafkanlah sesiapa jua sekiranya seseorang itu pernah meninggalkan kesan berlubang di dinding hati kita…

Memang senang ungkapkan dengan kata2.. ‘Maafkanlah sesiapa jua sekiranya seseorang itu pernah meninggalkan kesan berlubang di dinding hati kita tapi mudah ke untuk memaafkan seseorang itu…’

Hatiku banyak kesan lubang. Kesan daripada paku2 yang orang lain tinggalkan. Kadang2 ada kesempatan untuk membalas tapi tidak pernah terlaksana. ‘Apa perasaan anda jika anda berada ditempat saya?’ soalan itulah yang selalu aku fikirkan setiap kali aku nak buat tindakan yang melulu. Fikirkan semula, buat apa bertindak bodoh seperti mereka? Jika kita membalas apa yang mereka lakukan pada kita, bermakna kita pun SAMA BODOH MACAM MEREKA. Masa tu, hati memang sakit. Hanya Allah yang tahu.Kadang2 aku jadi makin tak faham.. Kebenaran ada didepan mata mereka tetapi BUTAKAH mereka atau hanya berpura2 tidak nampak? Sabda Rasulullah, “Kepimpinan itu adalah amanah dan pada hari akhirat kelak boleh jadi kehinaan dan penyesalan. Kecuali bagi orang yang menerimanya dengan cara yang hak serta menunaikan kewajipan yang terpikul diatasnya.” ALLAH itu MAHA ADIL.

Ibadah Bukan Untuk Sesaat Saja



Sering kita perhatikan sebagian orang hanya rajin ibadah saja di bulan Ramadhan, namun di bulan lainnya kita saksikan mereka malah kosong dari amalan. Ibadah seakan-akan jadi musiman saja. Tempat sujud hanya disentuh di saat bulan suci saja. Mukena pun barangkali baru dibersihkan ketika memasuki bulan Ramadhan karena baru dipakai ketika itu. Sayang sekali jika ibadah jadi seperti ini.

Seharusnya amal seorang mukmin barulah berakhir ketika ajal datang menjemput. Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan, ”Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah menjadikan ajal (waktu akhir) untuk amalan seorang mukmin selain kematiannya.” Lalu Al Hasan membaca firman Allah,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin (yakni ajal).” (QS. Al Hijr: 99).[1]

Ibnu ’Abbas, Mujahid dan mayoritas ulama mengatakan bahwa maksud ”al yaqin” dalam ayat tersebut adalah kematian. Kematian disebut al yaqin karena kematian itu sesuatu yang diyakini pasti terjadi.

Az Zujaaj mengatakan bahwa makna ayat ini adalah sembahlah Allah selamanya. Ulama lainnya mengatakan, “Sembahlah Allah bukan pada waktu tertentu saja”. Jika memang maksudnya adalah demikian tentu orang yang melakukan ibadah sekali saja, maka ia sudah disebut orang yang taat. Namun Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sembahlah Allah sampai datang ajal”. Ini menunjukkan bahwa ibadah itu diperintahkan selamanya sepanjang hayat.[2]

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Dari ayat ini menunjukkan bahwa ibadah seperti shalat dan semacamnya wajib dilakukan selamanya selama akalnya masih ada. Ia melakukannya sesuai dengan kondisi yang ia mampu.”[3]

Namun sebagian orang keliru dalam memahami surat Al Hijr ayat 99.

Mereka menyatakan bahwa jika seseorang sudah sampai tingkat yakin ma’rifah, maka ia tidaklah mendapatkan beban taklif (tidak dikenai kewajiban ibadah). Ini sungguh pemahaman keliru dan suatu kebodohan. Karena para nabi sendiri dan para sahabat, mereka adalah sebaik-baik orang yang paling mengenal Allah dan paling paham akan hak-hak-Nya serta mereka tahu bagaimanakah semestinya mengagungkan Allah. Mereka senantiasa menyembah dan beribadah pada Allah terus menerus hingga mereka wafat. Yakin dalam ayat ini maknanya adalah kematian. Sehingga maksudnya adalah sembahlah Allah sampai datang kematian.[4]

Oleh karena itu, kita akan lihat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintahkan kita beribadah bukan hanya sesaat, bukan hanya musiman, bukan hanya di bulan Ramadhan. Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. [5]

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, ”Yang dimaksud dengan hadits tersebut adalah agar kita bisa pertengahan dalam melakukan amalan dan berusaha melakukan suatu amalan sesuai dengan kemampuan. Karena amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang rutin dilakukan walaupun itu sedikit.”

Beliau pun menjelaskan, ”Amalan yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah amalan yang terus menerus dilakukan (kontinu). Beliau pun melarang memutuskan amalan dan meninggalkannya begitu saja. Sebagaimana beliau pernah melarang melakukan hal ini pada sahabat ’Abdullah bin ’Umar.”[6] Yaitu Ibnu ’Umar dicela karena meninggalkan amalan shalat malam.

Al Hasan Al Bashri mengatakan, ”Wahai kaum muslimin, rutinlah dalam beramal, rutinlah dalam beramal. Ingatlah! Allah tidaklah menjadikan akhir dari seseorang beramal selain kematiannya.”

Beliau rahimahullah juga mengatakan, ”Jika syaithon melihatmu kontinu dalam melakukan amalan ketaatan, dia pun akan menjauhimu. Namun jika syaithon melihatmu beramal kemudian engkau meninggalkannya setelah itu, malah melakukannya sesekali saja, maka syaithon pun akan semakin tamak untuk menggodamu.”[7]

Asy Syibliy pernah ditanya, ”Bulan manakah yang lebih utama, Rajab ataukah Sya’ban?” Beliau pun menjawab, ”Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah menjadi Sya’baniyyin.” Maksudnya adalah jadilah hamba Rabbaniy yang rajin ibadah di setiap bulan sepanjang tahun dan bukan hanya di bulan Sya’ban saja. Kami (penulis) juga dapat mengatakan, ”Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah menjadi Romadhoniyyin.”[8] Maksudnya, beribadahlah secara kontinu (ajeg) sepanjang tahun dan jangan hanya di bulan Ramadhan saja.

Semoga Allah memberi taufik.

Ya Allah, mudahkanlah kami agar terus dapat beribadah kepadamu hingga maut menjemput.


artikel ini ana copy and paste dari laman web sosial facebook..

sila klik di link ini untuk membaca post2 yang lainnya..

http://www.facebook.com/profile.php?id=1771977354#!/pages/Surabaya-Indonesia/RENUNGAN-N-KISAH-INSPIRATIF/301729376267?ref=mf